- Tulisan ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa, baik itu laki-laki maupun perempuan. Jika ada kesamaan, nama tempat, lakon, peristiwa dan atau jalannya alur cerita maka itu faktor kebetulan saja.
- Sekali lagi cerita ini murni fiktif! Anggap saja ini sebagai khayalan si Pandir atau sedang berharap, barangkali, ada yang ingin memberikan kado ultahku kelak. Tentunya berupa sandal. Hehehehe
Akulah yang lari setelah dilahirkan. Mereka mengurung diriku tapi aku pergi. Sukmaku mencari-cari aku, arungi bukit dan lembah-lembah, kuharap sukmaku takkan pernah menemukanku. -Fernando Pessoa-
Rabu, 30 Juni 2010
Sandal Berkado (Sebuah Firasat)
Kamis, 27 Mei 2010
Inspirasi dari Amazon (Gara-gara Film)
Raung buldozer gemuruh pohon tumbang. Berpadu dengan jerit isi rimba raya. Tawa kelakar badut-badut serakah. Tanpa HPH berbuat semaunya. Lestarikan alam hanya celoteh belaka. Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu. Oh mengapa? (Iwan Fals)
Aku miris melihat kondisi hutan di pulau Jawa. Hutannya gundul, habis ditebang oleh manusia. Aku mengatakan demikian bukan tanpa sebab. Berdasar pengalamanku melakukan pendakian gunung di pulau Jawa, hutan yang dulu lebat kian hari kini beralih fungsi menjadi hutan palawija.
Aku menyesalkan perbuatan manusia. Tapi aku sedang tidak menyalahkan siapa-siapa, baik itu petani maupun Negara, sama sekali tidak! Namun andai saja pemerintah tanggap dengan persoalan ketenagakerjaan dan banyaknya pengangguran, menurut pendapatku, masyarakat pinggiran gunung-hutan tidak merambah hutan secara massal dan tidak menjadikannya sebagai matapencaharian. Tidak percaya? Mendakilah di gunung-gunung pulau Jawa. Aku berikan contoh, dulu pada tahun 1999, waktu pertama kali aku mendaki Gunung Sumbing, Jawa Tengah. Hutannya masih lumayan lebat, tapi coba bandingkan dengan kondisi hutan saat ini. Bayangkan saja sampai Puncak, masih terdengar deru suara knalpot motor.
Masih sangsi? Berkelilinglah Nusantara. Lihatlah realita apa yang terjadi dengan hutan di Negara ini (baca; Indonesia)? Dari ujung pulau Sumatera hingga ujung pulau Papua. Berapa banyak hutan yang telah rusak dan beralih fungsi menjadi perkebunan dan pertambangan?
Dan anehnya, media massa hanya memberitakan pada kasus-kasus politik yang tak berjuntrung, semisal korupsi para politisi dan kabar selebritis yang kerap menebar sensasi. Sedang kasus perambahan hutan, pembalakan liar atau yang lebih “ngetren” disebut illegal logging jarang sekali diekspos. Ada pemberitaan tentang hutan pun saat terjadi kebakaran hutan yang disebabkan oleh faktor alam dan cuaca, sedang kerusakan hutan yang disebabkan manusia hampir jarang di liput media massa, terkecuali kasus illegal logging yang mengakibatkan kerugian Negara trilyunan rupiah.
Ketika aku melihat banyaknya bencana banjir, tanah longsor dan gempa dahsyat, seolah-olah bencana tak henti-hentinya datang silih berganti. Aku sungguh sangat bersedih. Lagi-lagi media massa hanya menyuguhkan berita-berita statistik kematian manusia dan kerugian yang diderita masyarakat. Tidak solutif, media seakan-akan tidak mengabarkan apa sebab terjadinya bencana?
***
Gara-Gara Film
“…Hanya satu hal yang saya inginkan, kematian saya akan menghentikan impunitas terhadap para pembunuh yang dilindungi oleh polisi Acre…Seperti saya, para tokoh penyadap karet telah bekerja menyelamatkan hutan hujan Amazon, dan membuktikan, kemajuan tanpa penghancuran adalah mungkin”. (
Pada suatu hari, di suatu siang yang panas. Cuaca yang sulit ditebak, seharusnya bulan ini, Mei, menurut BMKG (Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika) masih termasuk hitungan musim penghujan, tapi tidak untuk beberapa hari ini, panasnya begitu terik dan membuat tubuh berkeringat di sepanjang siang. Mungkin inilah yang disebut sebagai tahun Pancaroba. Kadang-kadang di benak kita timbul pertanyaan, mengapa iklim tidak mudah diprediksi sebagaimana BMKG begitu mudahnya meramal, tapi pada kenyataanya justru cenderung meleset dari prakiraan. Apa ini yang dinamakan Global Warming? Lalu apa penyebabnya?
Saat itu aku dan adikku, sedang menonton film The Burning Season. Sebuah film berdasar kisah nyata, yang diperankan oleh Raul Julia dengan sutradara John Frankenheimer. Film yang mengisahkan, perjuangan Chico Mendes menjaga hutan dari segala bentuk tindakan pengrusakan hutan. Melanjutkan perjuangan pendahulunya, Wilson Pinheiro, Chico mengorganisir rakyat yang bermukim di sekitar hutan amazon Brazil dan menggantungkan hidup dari hasil hutan non kayu berupa karet, untuk melawan segala bentuk pengrusakan atau pengambilalihan lahan mereka oleh investor asing yang berniat membangun peternakan sapi.
“Aku ingin menjadi sepertimu, Mas!” Kata adikku.
“Maksudnya, dek?” aku berkerut dahi, tak mengerti apa yang baru saja dikatakan Nanda.
“Iya, aku ingin menjadi sepertimu. Ingin naik gunung dan keluar masuk hutan” sambil menunjuk televisi yang masih memutar film.
“Aku belum paham apa yang kamu maksud, Dek?!”
“Aku akan melakukan seperti apa yang pernah mas lakukan. Hmmm, menyelamatkan alam sembari berpetualang” jawabnya singkat.
“Memangnya apa yang kamu tahu tentang kegiatanku di hutan?” aku memancing untuk bercerita.
“Selain mendaki gunung. Mas kerap melakukan reboisasi dan penghijauan hutan. Mas juga melakukan pendampingan masyarakat pinggiran gunung-hutan, menyadarkan mereka akan pentingnya melestarikan hutan. Aku terinspirasi Chico, Mas!” terangnya, menampakkan wajahnya yang polos.
“Alasannya apa kok tiba-tiba ingin menjadi Chico?” aku masih memasang raut muka kebingungan. Dalam hati sebenarnya aku ingin mengatakan “Sok Tahu”.
“Aku kecewa melihat kondisi di negeri ini! Aku ingin menyelamatkan hutan yang habis dibalak, mas” kata adikku seraya menunjukkan rasa patriotiknya.
“Apa kau tidak takut dengan polisi-polisi yang melindungi para cukong pembalak itu?” Kataku, sembari mencibir dan meyakinkan niatan adikku.
“Ah santai saja, mas. Aku pun akan mencari polisi untuk melindungi aktivitasku!” jawab adikku dengan entengnya.
Aku hanya bergeleng kepala. Aku terheran dengan pola pikir Adikku yang masih berumur belasan, sepantasnya dia masih asyik bermain gundu atau petak umpet bersama teman-teman sebayanya. Kok sudah memikirkan penyelamatan hutan. “Kok bisa? Lalu uang darimana untuk membiayainya?”
Nanda menunduk, seolah-olah sedang mengkonsep apa yang ingin dicita-citakannya. Lalu ia menjawab, Kumpulkan saja dana atau meminta sumbangan dari masyarakat dengan alasan untuk menyelamatkan hutan. Coba bayangkan jika dalam satu kecamatan ada 6000 penduduk. Setiap orang memberi sumbangan minimal seribu rupiah per orang? Hanya sekadar mendapat dukungan dari oknum polisi aku kira itu sudah cukup, Mas. Toh apa yang aku lakukan pun demi terjaganya hutan di negeri kita. Menjelaskan dengan berapi-api dan bermimik serius.
Aku hanya mengulum senyum mendengar penjelasan adikku. Seraya memeras otak dan mencari solusi. Aku pikir polisi, entah itu oknum atau institusi, tidak berani untuk memberi perlindungan kepada para bandar, cukong, pembalak ataupun mafia lainnya. Mengingat sekarang lagi musim Markus (makelar kasus), polisi pun tidak akan mau tercoreng nama baiknya untuk yang kesekian kali. “Selama itikadmu baik, aku yakin seluruh lapisan masyarakat akan mendukung. Lakukanlah apa yang terlintas dalam pemikiranmu, demi hutan dan rakyat Indonesia”. Aku memberi semangat walau sebenarnya terpintas rasa ragu.
“Baguslah kalau begitu!” jawabnya mantap. “Akupun akan melakukannya berdasar Undang-undang yang berlaku di negeri kita, Mas”.
“Tapi!” aku terdiam sejenak. “Sebelumnya maaf, aku sedang berandai-andai. Jika kamu mengalami hal yang serupa dengan Chico bagaimana?”.
“Maksudnya?” Nanda membelalak tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan tentang pengandaianku.
“Iya, maaf! ini hanya seumpama” aku cengar-cengir seraya meminta maaf atas ucapanku. “Aku takut jika kau mengalami nasib serupa dengan apa yang dalam film itu..”
“Dibunuh oleh pembunuh bayaran?” Nanda melanjutkan ucapanku.
“Iya” aku mengangguk pelan.
Nanda terpingkal mendengar pengandaianku.. “Kuharap, mas masih percaya dengan keyakinanmu, bahwa alam semesta beserta kehidupannya adalah ciptaan sang Khalik” ia masih cekikan “Dengan apa cara kumati, biarlah Tuhan yang memutuskan. Bukankah hidup matinya seseorang sudah digariskan Tuhan?”
“Nanda adikku, membahasakan ide dan gagasan untuk menjadikan bukti reall bahwa kita bisa, tidak semudah membalikkan telapak tangan” aku menasehatinya, meminjam istilah dari seniorku di oraganisasi pecinta alam. “Lihatlah para aktivis lingkungan yang sering kita tonton di televisi, mereka hanya sibuk mengkampanyekan Stop Global Warming, hentikan pengrusakan hutan atau apalah bahasa mereka. Toh para aktivis hanya menggembar-gemborkan slogan-slogan semata, dan hingga detik ini, tidak pernah terlihat secara signifikan apa yang dikampanyekannya. Hanya slogan-slogan kosong saja. Percuma berteriak di jalanan, di depan Istana, kalau hanya sekedar berkoar-koar untuk menghentikan penghentian perusakan hutan, namun pada realitanya di Indonesia, hutan kian hari semakin rusak dan habis di tebang untuk kepentingan industri”. Aku berhenti sesaat sembari menepuk-nepuk pundak Nanda “Apa kamu ingin seperti mereka? Atau kamu sudah siap menjadi seorang Chico?”.
Nanda hanya teranggut-anggut mendengar nasehatku. “Lalu dengan cara apa aku bisa menyelamatkan hutan, Mas?”
Aku berpikir keras agar kata-kataku mudah dimengerti. Lalu aku memulai bercerita, Adikku, perjuangan yang hendak kau lakukan adalah perjuangan yang mulia. Aku sebagai kakakmu akan selalu mendukung. Apabila memang kau ingin melakukan perjuangan seperti Chico Mendes, lakukanlah? Tapi ingat, jangan menggunakan kekerasan. Jika sewaktu-waktu tentara menyerangmu dengan peluru tajam, balaslah tembakan mereka dengan bunga. Apabila kawan seperjuanganmu tewas terbunuh oleh tentara bayaran, janganlah balas membunuh. Larilah ke hutan, galang kekuatan lalu serang kembali dengan bunga. Ingatlah apa yang telah di ajarkan oleh Chico Mendes bahwa, penggunaan senjata bukan cara terbaik dalam melakukan aksi perlawanan karena dengan senjata akan berdampak pada kematian bagi kedua belah pihak yang masing-masing adalah saudara kita sendiri.
Nanda menyepakati usulanku. Namun ia berucap penuh dengan keyakinan, “Untuk saat ini, aku ingin menyelamatkan lingkungan di sekitarku, Mas. Tapi kelak aku akan berjuang seperti Chico Mendes, dan tentunya aku akan mengamalkan nilai-nilai perjuangan yang telah diajarkan oleh dia”.
Adikku, ingatlah kata-kata Chico Mendes, Pada awalnya saya mengira saya berjuang untuk menyelamatkan pohon karet, maka kupikir aku sedang berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon. Sekarang saya menyadari saya berjuang untuk kemanusiaan”. Aku mengakhiri petuahku dengan mengutip Chico Mendes.
Nanda sepertinya memahami penjelasanku. Aku pun melanjutkan cerita. Jika kamu masih ragu. Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan bukan hanya berharap Chico Mendes terlahir di Indonesia. Tapi tumbuhkembangkanlah semangat perjuangan yang pernah dilakukan Chico Mendes. Teladanilah perjuangannya. Sederhana saja, dari lingkungan sekeliling atau halaman rumah kita, tanamilah satu atau dua pohon. Kupikir, mereka, kalian, dia, kita, kau dan aku bisa! Mari selamatkan hutan kita, lestarikan pohon untuk keberlangsungan umat manusia.
Di sebuah rumah dekat Bantaran Kali Beji, 01-02 Mei 2010
Catatan
· Ide cerita berawal dari kerapnya saya menonton Film “The Burning Season”, yang diperankan oleh Raul Julia dan disutradarai John Frankenheimer. Dan sering mendengarkan lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”, pencipta Iwan Fals.
· Untuk Yolanda; Saya sedang tidak meng"Kiri"kan atau menjadikan dirimu untuk berpikiran ke arah “Kiri” (Tapi dengan media film, sebenarnya cukup ampuh juga meng"Kiri"kan seseorang) hehehe
Kamis, 22 April 2010
Mimpi dari Surga
“Ehm lalu apa resolusimu menyikapi masa depan?” sembari berdehem ayahku kembalibertanya. Pertanyaan pendek itu sontak membuatku terkejut. Butuh hingga beberapa detiklamanya untuk menjawabnya.
“Entahlah?!” sekenanya saja aku menjawab. Aku tidak tahu reaksi ayah saat mendengar jawaban yang juga begitu singkat. Jawaban yang terlontar tanpa terpikir lebih dahulu. Kuyakin ia pasti terhenyak tak percaya mendengar jawaban itu. Bisa jadi ia kecewa. Aku berharap semoga saja tidak.
“Janokoku, bapak tidak mengarahkanmu untuk menjadi apa? Kuberi kebebasan kepadamu untuk menjadi apapun itu dan Bapak akan selalu mendukung apa yang kamu pilih” suara bijak dan tegas itu dikatakannya padaku. Aku hanya mengangguk, mengiyakan wejangan-wejangan darinya. “Sekalipun kau ingin mewujudkan cinta-citamu semasa kecil dahulu, sebagai seorang ayah pastinya aku mendukung. Apapun profesi itu yang penting halal dan tidak merugikan orang lain” tuturnya melanjutkan nasehat yang terputus di sela anggukan kepalaku.
Aku hanya menunduk. Sesekali mengulum senyum mendengar nasihat beserta dukungan dari ayahku. Sembari mengoreksi kembali ingatanku pada masa kecil. Sebuah cita-cita ingin berkeliling Nusantara, menjelajah dari pulau ke pulau dan dari benua ke benua. Cita-cita yang pada anak seusiaku, dimasa itu, emoh untuk dicita-citakan. Sebuah cita-cita yang tak kesemua teman-teman sebayaku menghendaki.
Kupalingkan badan tepat didepan ayah. Ayahku dengan senyuman terus memandang. Terlihat ia sudah mulai renta. Rambutnya memutih, jenggotnya pun beruban. Wajahnya lambat laun mengeriput dan pucat. Sedang di lehernya terbebat syal. Kuamati setiap jengkal tubuhnya, ia kelihatan tak lagi muda. Seketika terlintas di pikiranku, kelak aku pun akan mengalami seperti dia. Siklus manusia. Lahir-tumbuhkembang-hidup kemudian mati. Sangkan paraning nyawa, orang Jawa bilang.
Percakapan itu terjadi mengalir begitu saja, layaknya percakapan antara ayah dan anaknya. Diceritakanlah pengalaman panjang yang pernah dialami. Dari usia anak hingga remaja dilaluinya dengan masa-masa sulit, sesulit kondisi ekonomi keluarga dan politik pada jamannya. Pada masa mudanya, ia kemudian memilih untuk merantau. Jalan yang ditempuh inilah satu-satunya harapan untuk menyambung kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Di perantauan, pada kemudian hari bertemu dengan seorang gadis dan menikahinya sampai pada usia senja. Begitulah cerita singkat jalan hidup beserta lika-likunya.
Di akuinya, ayahku adalah seorang laki-laki yang romantis, dan ibuku mengamini. Ayahku juga sosok laki-laki yang berwibawa dan cukup disegani. Hingga kini masih banyak teman-teman karibnya yang masih bertandang ke rumah, walau hanya sekedar bertamu dan menyambung silaturahim atau sekadar mengobrol dan bertukar pikiran dengan ayahku.
Namun untuk urusan gadis dan percintaan, ayahku sempat di nobatkan sebagai pemuda playboy. Pendekar Pemetik Bunga, jika boleh aku memberikan julukan kapadanya. Julukan itu juga diakui oleh ibuku, sebab semasa ayah belum mengawini ibu. Ia kerap bergonta-ganti pasangan dalam menjalin kisah asmaranya. Hingga pada suatu ketika ia pun menambatkan hatinya kepada ibuku tercinta. Pernah kutanyakan mengapa ia bergonta-ganti, hinggap pergi lalu hinggap lagi? Apa sebab berkat ketampanan atau malah memang itu tabiatnya? Ayahku hanya tersenyum dengan pertanyaan itu. Dengan kalem dan bertanggung jawab ia menjawab “Bapak, bukan bergonta-ganti pacar anakku. Sama sekali tidak ada niatan untuk menyakiti hati perempuan yang dulu pernah bapak dekati. Sama sekali tidak! Pendekatan yang dilakukan bapak, semata-mata hanya untuk mencari pasangan hidup yang tepat. Hingga tepat pilihan itu jatuh pada ibumu” aku hanya tercenung mendengar uraian panjang yang dijelaskan olehnya. “Begitulah, bapakmu! Apa yang beliau katakan semuanya itu benar” ibuku menyahut dari belakang dan kami pun saling melempar senyum.
***
“Ehm…Ehm” entah yang keberapa kali aku mendengar ayahku berdehem. Aku tidak begitu menghiraukan suara itu, dan aku masih duduk di tempat semula, terus mengamati ikan-ikan yang terpenjara di dalam ruang kaca. Hanya diam dan termangu, tak ada sesuatu yang terpikirkan. Ayah masih memandangiku. Kali ini juga ia melakukan hal yang sama denganku. Berdiam diri tanpa kata.
Tiba-tiba aku teringat pada diriku sendiri, pada usiaku yang tak lagi remaja. Bahkan bisa dikatakan aku sudah menginjak dewasa. Dewasa? Hah apa itu? Apakah seiring bertambahnya usia? Ataukan sebab pola pikir manusia yang sedikit lebih maju berorientasi kedepan? Pola pikir manusia yang terencana dalam menapaki kehidupan tanpa ketergantungan orang tua? Yah aku telah dewasa, boleh dikatakan seperti itu.
“Ehm” sekali lagi ia berdehem, kali ini deheman terdengar lebih keras. “Apa yang kau lamunkan, Nak?” kembali bertanya seraya memandangku lekat-lekat. Aku masih bergeming tak mengeluarkan suara. Didalam hati terasa sesak yang tak tertahan, serasa paru-paru saling bertubruk, berhimpit dan bergesekan. Sedang di kepala sudah berjubal bermacam-macam pikiran dan terasa ingin meledak. Namun mulutku tak mampu mengucap. Andaipun berkata-kata entah memulai dari mana? Seakan begitu sulitnya mengucapkan rangkaian kata yang ingin segera kumuntahkan. Aku masih terdiam.
“Bicaralah Nak! Katakanlah, sekalipun emosimu meluap bicaralah!” Ayah kembali bertanya dan aku masih seperti semula, hanya diam yang dapat kulakukan.
Kupandangi wajah ayah, dia hanya membalas dengan senyuman. “Bicaralah, Nak. Bukankah katamu diam bukan lagi emas?!” katanya dengan suara parau. Aku bingung akan memulainya dari mana, kutatap ayah lekat-lekat. Tak berasa mataku menitikkan bulir-bulir airmata begitu deras dan semakin tak terbendung. Ayah hanya diam lalu melihatku iba. Sepertinya ia hendak menyeka airmataku, tapi terburu kuseka olehku.
“Entah takdir apa yang memaksaku untuk melakukan seperti yang kulakukan saat ini” kataku menahan sesak yang berkecamuk hebat di dalam dadaku. Aku memulai berbicara, rasa-rasanya hidupku tidak seperti apa yang bapak dan ibuku harapkan. Ketika aku yang pernah kau timang. Aku masih ingat, ingat betul pada dongeng-dongeng, yang kuanggap itu sebagai harapanmu. Dan kini, aku tak mampu mewujudkan dongeng-dongeng itu. Kutakut kau dan juga ibuku yang selalu kucintai tak pernah merasakan kebahagiaan yang kalian harapkan dariku. Aku merasa belum mampu membahagiakan kau dan juga ibuku tercinta.
Mendadak mulutku tercekat, tak mampu lagi melanjutkan kata-kata. Airmata mulai mengucur deras tak henti-hentinya. Sesak yang menghimpit dada kian terasa menyakitkan dan membuatku terasa susah untuk bernafas. Kutundukan kepala dan membenamkan dengan kedua telapak tangan. Aku bergumam didalam hati “bodohnya aku”
“Anakku, kau tidak sedang membuat takdir. Itulah hidup. Terkadang tidak seperti apa yang kita harapkan. Dan percayalah Tuhan telah merencanakan jalan yang terbaik untukmu” ujar ayahku menebar senyum. Kedengarannya begitu teduh, sungguh menyejukkan hati.
Aku masih menahan isak. Kepala yang berjubal dengan bermacam pikiran, perlahan mulai terurai. Bagitu plong setelah mendengar nasehat yang baru saja kudengar. Aku tak menyangka, ayah yang dalam pikiranku seorang ayah yang kejam, bisa juga mengeluarkan kata-kata sebijak itu.
“Tapi mengapa Tuhan mentakdirkanku semacam ini? Tak adakah pilihan lain yang lebih baik untukku?”
“Tidak anakku! Percayalah, Ayah juga pernah mengalami nasib serupa denganmu. Disorientasi itu adalah bagian dari pendewasaan pola pikir kita sebagai manusia. Dan ketahuilah Tuhan maha adil nan bijaksana!”.
Aku hanya mengangguk mendengar petuah-petuahnya. Tak sepatah kata yang terucap. Ingin rasanya mengucap tapi, namun aku tak kuasa untuk berbantah kata mencari kebenaran atas dogma dan takdir omong kosong. Aku tak mau, atau mungkin belum mau megakui segala cerita tentang takdir. Aku tak mau melukai hati dan keyakinannya.
***
“Ash-shalatu khairum minam-nauum”. Dari kejauhan terdengar muadzin menyeru seperti itu sebanyak dua kali. Lalu disambung dengan kalimat takbir dan diakhiri dengan kalimat tahlil satu kali. Sepertinya subuh telah tiba.
Pagi akan segera menjelang. Kabut sudah mulai turun, embun membasahi bunga-bunga yang akan bermekar. Tak terkecuali, hawa dingin merasuk sampai sum-sum tulang dan terasa menggigil ditubuhku. Aku menyembunyikan tubuh mencari kehangatan dibalik selimut.
Suara adzan yang terdengar beberapa menit yang lalu tidak kugubris. Kuanggap itu sebagai angin lalu saja, sebab aku sama sekali belum tertidur nyenyak. Gumamku dalam hati, kutahu aku seorang Mukallaf, aku ingat itu. Aku betul-betul sadar akan posisiku sebagai seorang muslim. Tapi terus terang aku belum mau melaksanakan seperti mukallaf pada umumnya. Aku tak tahu apa sebab semua itu. Mungkin yang kulakukan ini adalah bagian dari takdir yang sudah digariskanNya? Andaipun iya, kuharap pada akhirnya akan menjadi seorang yang benar-benar mukallaf seperti seorang muslim yang lain.
Matahari perlahan mulia menyinar. Terlihat terang berwarna jingga kemerah-merahan. Sinarnya perlahan menembus masuk dari balik celah tirai jendela, tepat menerpa wajahku. Kubuka mata perlahan-lahan, terlihat cukup menyilaukan mata. Kubalikkan tubuhku dengan posisi tengkurap, kulakukan alih-alih menghindar dari kilauan mentari pagi. Namun, sekali membuka mata, rasanya sulit untuk memejamkannya kembali. Saat itu juga aku terbangun dari tidur tapi tubuh masih merebah di ranjang. Begitu malas untuk segera beranjak dari pembaringan.
Menatap langit-langit kamar. Kembali mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Aku betul-betul terlupa. Antara realita dan ilusi hanya berbeda tipis. Benarkah ia hadir dan berkomunikasi denganku? Apakah benar ia menemuiku didalam mimpi?
Ya… Ya.. aku benar-benar teringat kejadian semalam. Ia betul-betul hadir dan menemuiku di dunia imajinasi. Tapi mengapa ia baru kali ini datang menemuiku? Kemana saja bung? Ah mungkin saja ia baru diberi kesempatan dan diijinkan untuk menemuiku. Aku sedikit menghibur.
Ya…Ya.. Aku ingat! Begitu jelas! Didepan sebuah akuarium aku bercakap-cakap dengannya. Aku memalingkan muka tepat didepan sebuah rak buku. Terpampang sebuah potret berpigura hitam. Kupandangi foto itu sembari sesekali mengumbar senyum sinis. Kuyakin, andai saja foto itu hidup, pasti ia pun akan membalas senyumanku. “Huh.. kau begitu tega dan jahat!” aku menggerutu dengan bercanda.
Kukepalkan tangan, menengadah ke langit-langit dan mengucap doa. Tenanglah dalam damai disana. Semoga kelak, kubisa menemuimu di alam yang sama. Entah dimanapun itu. Salam hangat dari ananda. Amien. Aku menutup doa.
(WFY)