Kamis, 12 Agustus 2010

Seandainya Orangutan Bisa Bicara (part VI)

DEN SUSANTEK (Detasemen Khusus Anti Tekor)


Dini hari. Tepatnya pukul 00.01 Wib. Komandan Bambang masih di kantor. Padahal teman-teman sekerjanya sudah pulang. Di kantor, ia ditemani beberapa bawahannya yang sedang piket dan berjaga. Lembur. Itupun di luar kantor, tepatnya di pos jaga. Komandan Bambang terlihat sibuk memainkan tuts telepon genggamnya. Sepertinya ia hendak mengontak seseorang. Suara nada tunggu yang di loudspeaker terdengar nyaring.


“Halo Min, kau dimana?” Tanya komandang Bambang, memulai percakapan melalui telepon genggamnya.


“Selamat malam, Ndan! Saya di rumah, Ndan!”

“Segera ke kantor! Ada sesuatu yang harus dibicarakan. Penting!”

“Siap, Ndan! Laksanakan. Kurang dari setengah jam saya sudah sampai di kantor.”

“OK, saya tunggu! Gak pake lama!” jawab komandan Bambang menutup percakapan dan memutuskan hubungan telepon genggamnya.


Jarum jam terus berdetak. Komandan Bambang berjalan mondar-mandir di ruangan kerjanya. Alih-alih menungu kedatangan Imin, ia menyulut sebatang rokok untuk mengusir rasa jenuh. Kepulan asap rokok yang tersembur lewat mulutnya beterbang memenuhi ruangan. Semakin banyak asap yang terkepul, semakin pekat, mengabur dan memedihkan mata.


“Uhuk…Uhuk…” terdengar suara batuk dari kotak sebelah. Saya juga hendak terbatuk tapi ditahan. Hal ini saya lakukan agar tidak mengganggu kawan-kawan sesama Orangutan yang sudah tertidur kelelahan. Saya juga merasakan kantuk, tapi saya tidak mau terlena barang satu detik pun. Selagi tubuh masih kuat dan bisa menahan kantuk, saya akan terus berusaha memantau gerak-gerik dan gelagat manusia picik yang berkomplot. Institusi yang menaunginya selalu mencap manusia-manusia itu sebagai ‘oknum’.


“Selamat malam, Ndan. Maaf jika terlalu lama menunggu.” Imin datang tepat waktu dan menyapa komandannya.


“Akhirnya datang juga!” sambut komandan Bambang sumringah, “Silahkan duduk, ada yang harus kita bicarakan terlebih dahulu secara empat mata.” Lanjutnya.


Imin pun menempatkan tubuh dan duduk di kursi menghadap komandannya.


“Jadi gini, Min!” komandan Bambang memulai pembicaraan yang katanya penting. “Mengenai rencana kita, tentang Orangutan itu” lanjutnya sembari menunjuk saya dan kawan sesama Orangutan yang lain.


“Gimana, Ndan?

“Tadi siang. Ada perusahaan eksportir, kebetulan teman saya yang berani membeli ke-5 orangutan itu seharga 12500 dolar.”


“Wah mahal itu, Ndan! Terus?” Imin memotong takjub mendengar jumlah uang yang disebutkan.

“Temanku itu rencananya ingin mengekspor Orangutan ke USA. Nah perusahaannya mau membeli dengan catatan ada dokumen yang sah dari institusi kita dan departemen terkait. Kau sendiri tahulah jika Orangutan itu satwa yang dilindung oleh undang-undang” komandan Bambang menjelaskan.


“Lalu? Gimana baiknya agar usaha kita lancar, Ndan?”

“Ya sesuai skenario awal. Dokumennya kita fiktifkan. Gitu aja kok repot, Gusdur aja jadi presiden ndak pernah repot!”


“Apa perusahaan teman komandan mau?”

“Awalnya tidak. Tapi setelah saya yakinkan serta menjamin keselamatan perusahaannya, akhirnya mau tak mau temanku mau. Ini ada surat perjanjian dan kuitansi jual-belinya” komandan bambang dan memperlihatkan surat-surat dan kuitansi serta segepok uang muka 10.000 dolar amerika yang telah dirupiahkan.


“Lho sudah dibayar, Ndan!” Imin terkejut melihat uang merah bergambar presiden Soekarno yang bertumpuk-tumpuk. “Jika kurs Rp10.000/dolar. Maka jumlah uang itu 100juta” Imin bergumam pelan.


“Emang sudah!” jawab komandan Bambang mengulum senyum. “Lha maksud saya mengundang kamu kekantor selain membicarakan uang juga membicarakan pembagian hasil untukmu, Zulkifli, Yudho dan teman-temannya!.”


“Maksud komandan?”

“Kau itu tolol apa goblok sich, Min” hardik Komandan Bambang.

“Maaf. Saya benar-benar tidak tahu, Ndan.”

“Uang inikan baru kita yang tahu. Kamu tidak ingin uang yang berlebih, Min?”

“Jelas mau!” jawab Imin spontan dan girang.

“Nah berhubung teman-teman yang lain belum mengetahui. Nanti kamu bilang kepada mereka jika Orangutan itu laku terjual separuhnya dari uang ini” jelas komandan Bambang menunjuk tumpukan uang merah bergambar presiden Republik Indonesia I.


“50juta. Lalu 50 jutanya lagi kita bagi 2, Ndan?” jawab Imin dan bertanya. Untuk masalah hitung menghitung uang Imin menampakkan kepandaiannya.


“Sesuai rencana, Min. 50juta dibagi 25% untuk saya, 20% kamu dan Zulkifli. Sisanya 35% untuk Yudho dan teman-temannya. Nah 50jutanya lagi, kamu dapat 40%!”


“Berarti saya mendapat bagian total Tiga Puluh juta rupiah!”

“Ya kira-kira segitu. Kau itu Min, kalau urusan uang pandai, tapi untuk urusan pikir memikir tidak!” sindir komandan Bambang.


“Ah komandan bias saja” jawab Imin malu-malu.

“Ya sudah, deal?”

“Sepakat, Ndan!”

“Sekarang pertemuan kita tutup. Tugasmu adalah menghubungi Zulkifli dan teman-teman yang lain. Kabarkan besok malam pukul 12 untuk datang di kantor!” komandan Bambang memerintah, “Ini uang kamu. 20 juta!”


“Siap, Ndan! Perintah laksanakan. 86!” Imin beraksi cepat dan tanggap.


Pertemuan itu ditutup. Imin yang diberi tugas dari komandannya langsung melaksanakan perintah. Ia terlihat sibuk memencet tuts telepon genggamnya. Ibujarinya begitu cekatan dan lincah menari dan merangkai kata membuat pesan,


“Kabar gembira. Tlh laku jerih payah kita seharga 50jt. Bsk hari sabtu dinihari, tpt jam 12mlm, wajib untuk datang ke kantor. Tlg sebarkan kpd tmn2 yg lain. a/n Komandan Bambang.”


Lalu mengirimkan pesan itu secara berantai.


Setelah tugas terlaksana Imin dan komandan Bambang pergi meninggalkan ruang kerjanya. Lampu semua dimatikan. Dan saya dalam kegelapan menyandarkan tubuh pada dinding kotak yang pengap dan tertidur pulas dan lemas.

***


Malam berikutnya. Minggu pukul 00.00 WIB. Tepat pada waktunya, semua komplotan komandan Bambang memenuhi undangan Imin yang mengatasnamakan komandannya. Komandan Bambang dan Imin yang sudah mendahului datang di kantor tak perlu menunggu lama. Kedatangan Zulkifli dan Yudho dan ke lima teman-temanya hampir bersamaan. Tanpa babibu ataupun berbasa-basi rapat pun langsung dimulai.


“Untuk memulai rapat kali ini terlebih dahulu tanpa mengurangi rasa hormat bagi umat yang beragama non muslim, saya awali dengan ucapan Bismillahirohmanirrohim, Assalamualaiku wr.wb. Salam sejahtera. Semoga Tuhan masih melindungi kita semua” komandan Bambang membuka rapat.


“Walaikum sallam wr.wb,” jawab peserta rapat yang beragama Islam. Sedang yang non muslim hanya mengangguk dan ada juga yang menjawab, “Assalumuat malam menjelang pagi.”


“Terima kasih atas kedatangan teman-teman. Maksud dan tujuan saya mengundang teman-teman di kantor saya adalah untuk membahas hasil dari kinerja yang telah kita lakukan beberapa malam yang lalu. Langsung saja ke pokok persoalan. Kebetulan ada perusahaan eksportir yang mau membeli Orangutan kita dengan harga 50juta. Dan sekarang sudah dibayar lunas. Ini uangnya.” Komandan Bambang mengambil uang yang sebelumnya disunat separuh lebih dari dalam tas dan diperlihatkan ke peserta rapat.


Reaksi Zulkifli, Yudho dan teman-temanya bak baru melihat uang yang bertumpuk membuat matanya kemerah-merahan dan senyum yang tak henti-hentinya mengembang.


“Sebelum uang dibagikan sesuai kesepakatan sebelumnya. Alangkah baiknya kita menghitung dahulu uang yang terpakai sewaktu kita di hutan. Saya persilahkan kepada teman-teman yang merasa telah mengeluarkan uang untuk menghitungnya.” Lanjut komandan Bambang sembari menyerahkan alat tulis kepada peserta rapat.


Komandan Bambang dan komplotannya menyibukkan diri mencorat-coret dan menuliskan angka-angka dalam bentuk rupiah di kertas. Di masing-masing kepala, mereka menggelemubungkan biaya yang dikeluarkan dalam operasi di hutan. Beberapa menit kemudian komandan Bambang kembali melanjutkan dan memimpin rapat.


“Bagaimana sudah selesai?”

“Sudah, Pak” jawab Zulkifli.

“Hampir selesai, Pak” Yudho menimpali.

“Ya sudah kalau begitu Zulkifli dulu! Sebutkan pengeluaran dan perinciannya!”.

“Baik, Pak.” Jawab Zulkifli dan kemudian membacakan dan menjelaskan hasil coret-coretan yang ditulisnya dengan berbohong. “Total semua uang yang saya keluarkan 300ribu dengan rincian 150ribu mengamplopi pak tua yang dititipi orangutan. 150ribu lagi saya belikan logistik dan rokok untuk bekal di hutan, Pak!”


“Ok, kalau Yudho?” ujar komandan Bambang sambil mengambil pecahan uang bergambar Soekarno sebanyak tiga lembar. Uang itu ditaruh dan memisahkannya disamping tumpukan uang 50 juta.


“Saya kurang lebih 500ribu. 300ribu menyarter mobil pikup. 200ribu untuk membeli logistik dan perbekalan selama perburuan” Jawab Yudho.


“Ehm… Ehm.. Mohon di ralat. Bukan perburuan tapi operasi pengamanan hutan. Harap diperhatikan.” Komandan Bambang meluruskan. “Baiklah dilanjut. Kalau saya dan Imin hanya mengeluarkan 3 butir peluru hampa dan 1 peluru tajam seharga 100ribu. Jadi total semuanya jika ditambah 300ribu uang Zulkifli dan Yudho 500ribu itu berjumlah 1juta!” komandan Bambang membagikan uang tersebut kemasing-masing orang yang telah menyebutkan sesuai angka nominalnya. “Dan yang tersisa 49juta. Sesuai kesepakatan, sebelum kita berangkat menggelar operasi, telah disepakati bahwa pembagiannya sebagai berikut; 20% untuk Zulkifli dan Imin. Saya 25%, dan 35% untuk Yudho dibagi rata sama teman-temannya.” Komandan Bambang melanjutkan.


Yudho masih terlihat mencorat-coret dikertas. Menghitung jumlah angka dan rupiah yang didapat setelah dibagi rata dengan teman-temannya. “Pak, jika 35% dari 49juta kemudian dibagi rata dengan ke 5 teman saya. Maka setiap orang Cuma mendapat duajuta delapanratus limapuluh sekian rupiah. Sedang teman-teman yang lain kok mendapat diatas 5 juta.” Protes Yudho.


“Lho bukahkah kita sudah menyepakati pembagian itu?” Imin menyambung, memperingatkan kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.


“Lho iya. Tapi kerja kita sama-sama berat. Kalian enak, Cuma jalan! Sedang kami sudah jalan membawa beban pula. Siapa yang menandu kurungan besar itu?” Yudho membela dan beralibi dengan ketidakpuasan hasil dari pembagian yang menurutnya tidak adil bagi dirinya dan ke lima temannya.

Suasana jadi hening. Jika dipersentasekan memang hasil yang didapat Yudho dan teman-temannya lebih kecil dibanding dengan yang lain. Bagi Yudo itu tidak adil! Selain sama-sama jalan ia juga harus menandu saya dan ke empat kawan sesama Orangutan yang lain, keluar dari meretas belantara melewati semak-semak yang tentunya sangat melelahkan.


“Baiklah 10% milik saya untukmu, Yudho” komandan Bambang menengahi dan memberikan solusi terhadap protes Yudho. Bagi komandan Bambang 10% dari 49juta itu nominal yang sangat kecil, jika dibanding uang yang sudah disunat sebelumnya.


“7% saya ihlaskan untuk bang Yudho!” Imin mencoba berempati.

“Bagaimana Zulkifli?” Tanya komandan Bambang yang melihat Zulkifli masih sibuk menghitung angka dikertasnya. Sepertinya ia juga ingin meendermakan uangnya kepada Yudho. Juga dalam bentuk persentase.


“Baiklah 5% saya ikhlas. Ujar Zulkfli berat hati.

“Yudho belum menjawab. Ia m kembali mencorat-coret dan menghitung angka di kertasnya;

49.000.000 X 57% = 27.930.000

27.930.000 : 6 = 4.655.000

Jadi Rp. 4.655.000/orang


“Baiklah saya mau!” jawab Yudho tersenyum tipis. Dibarengi anggukan kepala ke lima teman-temannya. Sebenarnya Yudho masih kurang puas dengan bagi hasil itu. Tapi jika dibanding dengan pekerjaannya sebagai penebang kayu di hutan, Menandu orangutan uang yang didapat lebih besar. Mau tak mau, ia pun menerima keputusan rapat pembagian hasil jerih payahnya. Walau baginya pembagian itu terasa tidak adil dan tidak rata.


“Masih ada yang keberatan?” kata komandan Bambang. Peserta rapat hanya bergeleng kepala dan diam. “Sepakat?” lanjutnya.


“Sepakat!!!” jawab peserta rapat serentak.


Komandan bambang menghitung berdasar persentase yang disepakati ulang. Dan membagi-bagikannya kepada Zulkifli Rp.7.350.000, Imin Rp. 6.370.000, dan Yudho Rp. 27.930.000 dan dibagikan kepada teman-temannya sebesar 4.655.000. Sedang Komandan Bambang justru malah mendapat bagian yang sama dengan Zulkifli.


“Baiklah rapat akhirnya selesai. Dimohon untuk saling menjaga rahasia. Begitu seluruh dokumen-dokumen telah selesai saya buat. Perusahaan eksportir akan mengambil orangutan itu. Mohon bantuannya dan saya ucapkan terima kasih atas kerjasamanya” komandan Bambang menutup rapat.

***


Hari sudah hampir menuju pagi. Komandan Bambang dan komplotannya masih diruangan kerjanya. Tepat didepan saya dan kawan-kawan sesama orangutan terkotak di dalam kamar yang berjeruji besi. Sebelah kamar kosong tak berpenghuni, hanya ada kaos biru tua bertulis ‘Tahanan’ dengan angka ’45 U’ yang tergantung di kapstok ruangan itu.


Saya yang masih terjaga mengamati gelagat dan tindak-tanduk manusia-manusia picik yang berkomplot. Tak kuat lagi menahan kantuk yang terus menyergap. Mendengar obrolan yang tidak penting dan tidak menyinggung saya dan kawan-kawan sesama orangutan akhirnya saya putuskan untuk beristirahat. Tidur dan membayang aapa yang akan terjadi esok?


Sebelum mata saya benar-benar terpejam. Belum juga pikiran itu terlepas sejenak. Lamat terdengat suara adzan yang menggaung dan menanda fajar akan segera menyingsing. Berbarengan itu, tawa kelakar komandan Bambang beserta komplotannya sudah berangsur sepi. Strategi dan rencana apa lagi yang hendak mereka susun? Dan tanpa daya, tak kuasa saya hanya pasrah menyikapi ulah dan perlakuan manusia berkomplot itu.


Dan tiba-tiba. Pikiran saya melesat jauh ke masa depan. Suatu masa yang belum pernah dilalui. Belantara hutan yang masih alami. Hidup rukun, beranak pinak dan berdampingan. Segala kebutuhan dasar untuk hidup tercukupi dan bahkan melimpah. Tak ada penggangu. Tidak ada makhluk predator yang bernama manusia. Hidup yang begitu tenteram dan kertaraharja.





Di Pinggiran Selokan Mataram 20 Juli 2010

(WFY)

NB

· Ide cerita berawal dari kerapnya saya menonton Film “The Burning Season”, yang diperankan oleh Raul Julia dan disutradarai John Frankenheimer. Dan film “Tarzan” (tanpa huruf X). Dan sering mendengarkan lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”, pencipta Iwan Fals. “Berita Cuaca”, yang dipopulerkan Gombloh dan "Lautan Tangis& Fabel"nya Sujiwo Tejo.

· Sumpah Tulisan ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa, baik itu laki-laki maupun perempuan. Jika ada kesamaan, nama, tempat, lakon, peristiwa dan atau jalannya alur cerita maka itu faktor kebetulan saja. Sekali lagi Sumpah! Tulisan tidak berdasar fakta ataupun realita dan tulisan ini murni fiktif.

· Ide tulisan sudah terekam saat saya sedang melakukan perjalanan panjang antara Baderan-Cikasur-Cisentor-Rawa Embik-Puncak Rengganis-Cisentor-Taman Hidup-Bremi pada tanggal 12-17 Juli 2010.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Seandainya Orangutan Bisa Bicara (part V)

TERPENJARA; Dari Kandang Ke Kandang (Lanjutan dari Tragedi Kebinatangan)



Saya masih di rumah pak tua yang belum saya ketahui namanya. Pak tua kehidupan kesehariannya hidup dengan kesederhanaan. Menanam palawija berupa jagung di tanah belakang rumahnya yang tak seberapa. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pak tua menggembala ternak milik tetangga dan menyambi menyabit rumput untuk dijual ke beberapa warga yang memelihara kambing ataupun sapi.


Hidupnya berjalan apa adanya, bersahaja jauh dari hiruk pikuk dan ramainya kota. Pak tua juga memelihara sepasang kambing sebagai tabungan untuk hari depan atau untuk keperluan mendadak yang lain. Di samping itu ia juga menjadi pekerja harian lepas jika ada yang meminta jasa tenaganya. Kuli bangunan, kuli pikul sampai pekerjaan yang menurut orang kota sebagai pekerjaan nista, tukang sampah pun ia lakoni.


Pak tua itu kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari berupa makan lebih dari kecukupan. Untuk kebutuhuan sekunder berupa hiburan, pak tua cukup beranjangsana di rumah-rumah tetangga yang mempunyai televisi. Layar kaca bergambar adalah salah satu sarana salah satu hiburan yang menghibur bagi masyarakat desa pinggiran hutan.

***


“Hey mengapa kalian sedari malam hanya diam?” saya menegur sapa kepada orang-orangutan yang lain sesama penghuni kerangkeng,


“Tidakkah kau merasakan seperti apa yang kurasakan saat ini?” orangutan muda bersungut-sungut, “Saya syok dengan peristiwa semalam! Dan kini saya trauma dan bahkan beranjak gila!” lanjutnya. Sedang ketiga orangutan masih tertunduk lesu tanpa daya.


“Ya! Saya merasakan hal yang sama seperti kalian. Tidakkah kaulihat berapa banyak darah yang bercecer di lantai?”.

“Oleh sebab itu saya trauma melihat kebiadaban manusia terhadap kita!” orangutan muda memotong dan bertanya. “Kita mau diapakan?”.


“Saya tidak tahu persis! Mungkin kita di evakuasi ketempat yang lebih aman” saya menjawabnya dengan berbohong. Evakuasi dalam bahasa manusia yaitu dipindahhunikan ketempat yang tidak hewani, semisal kebun binatang dan taman safari.

“Mengapa?”

“Dengan dalih kebijakan pembangunan dan kesejahteraan umat manusia. Mungkin areal hutan tempat tinggal kita akan diratakan dengan tanah”.


“Kok bisa?”.

“Kenapa tidak? Tidak tahukah kamu di Papua berdasar kabar burung cendrawasih. Gunung yang semula menjulang, hutan yang semula lebat kini sudah menjadi rata dengan tanah. Dan sekarang menjadi kota yang kata manusia sangat indah, penuh dengan artistik dan modern. Semula, berawal dari kekayaan sumber daya alam di tanah Papua yang kaya akan emas dan tembaga. Manusia yang mengorganisir diri dan membentuk perusahaan betnama PT Freeport Indonesia mengekspoitasi habis-habisan sumber daya alam yang ada di tanah Papua. Gunung terpangkas, hutan rata denga tanah setelah habis tak bersisa, mereka PT Freeport Indonesia otomatis tidak bisa mengembalikan hutan dan ekosistemnya. Nah dengan dalih pembangunan itulah mereka membangun kota-kota yang semula itu gunung dan hutan”.


“Biadab! Dasar Muhaimin!”

“Hush, Imin ada di luar! Jangan menghujat dengan nama itu!” saya mengingatkan.



“Muhaimin yang saya maksud bukan manusia yang diluar itu. Tapi manusia yang bernama Imin-imin yang lain. Saya tak habis pikir!?” Orangutan muda menggaruk-garuk kepala. Terlihat satu persatu bulunya rontok. Ia benar-benar stres.


“Jangan heran dengan negeri ini! Lihat di Ibukotanya. Banyak juga rumah-rumah yang tergusur dengan dalih pembangunan dan penataan kota. Andai saja Jakarta punya hutan. Pasti para pemimpinnya pun akan melakukan hal yang sama terhadap hutan-hutan tempat kita dan satwa lain bertempat tinggal!”


“Hmm” orangutan muda menghela nafas panjang dan menghirup udara dalam-dalam.

“Sudahlah di situasi saat ini tidak usah berdiskusi. Lebih baik kita pikirkan bagaimana kita menyelamatkan diri dan lolos dari kerangkeng ini.”


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan sepatu yang terseret. Suara itu semakin lama semakin mendekat. Saya terpaksa menghentikan obrolan dengan orangutan muda disamping saya.



“Sssst ada manusia. Mari pikirkan!” saya menutup obrolan. Orangutan muda itu manggut-manggut. Ia masih menggaruk-garuk kepala yang merontokkan bulu-bulu kemerahannya.

***

Rupanya Komandan Bambang dan komplotannya yang datang. Komplotan itu membawa lima kotak yang berlubang disetiap sisinya. Dengan gerak cepat serta sigap komplotannya memasukan orangutan disetiap masing-masing kotak.


Di dalam kotak berukuran sempit itu hanya pas badan dan sedikit ruang untuk menggerakan tangan dan kaki. Lubang di setiap sisinya digunakan untuk udara yang masuk-keluar untuk pernapasan. Selain itu bisa dipergunakan untuk mengintip gerak-gerik dan menguping suara-suara yang berada diluar kotak tempat saya terkurung. Ruang gelap tersekat rapat yang lumayan pengap inilah tempat hunian baru saya dan empat kawan sesama orangutan.

Saya teringat dengan tokoh Prodem (Pro Demokrasi) Myanmar. Sesosok manusia berjenis kelamin perempuan bernama Aung San Suu Kyi yang dengan gigihnya memperjuangkan hak-hak kaum papa. Berjuang atas nama harkat-martabat dan demokrasi yang direpresi oleh penguasa negara yang militeristik. Dengan kekuasaannya Junta militer begitu leluasa menindas rakyat dan bangsanya sendiri.


Oleh sebab perjuangan yang dilakukan Aung San Suu Kyi, atas nama stabilitas politik dan keamanan dalam negeri, akhirnya junta militer menangkap dan memenjarakan pahlawan prodem rakyat Myanmar.

Begitu pun di negeri ini. Sangat banyak manusia-manusia Prodem bahkan yang mengaku Prodem. Tak perlu disebutkan siapa nama manusia itu? Untuk memudahkannya saya sebut sebagai para aktivis ’98 saja.


Mungkin manusia yang lahir di rentang waktu tahun 1980-1990, sekarang tentunya berusia muda, akan tahu peristiwa demi peristiwa antara tahun 1996-1998 yang menghebohkan, keji dan brutal yang didalangi oleh negara dan tentara.


Tentunya masih ingat dengan slogan-slogan penyemangat disaat penumbangan rezim militeristik kala itu. Seperti; ‘Satu bumi merah jangan patah sampai sang tiran menyerah’ atau ‘Jika demokrasi terancam oleh represif suatu tirani kekuasaan maka perlawanan adalah suatu keharusan atau ‘Adili Koruptor! Keadilan yang seadil-adilnya’ dan masih banyak lagi slogan-slogan yang diteriakan oleh aktivis di parlemen jalanan.


Setelah cita-cita perjuangan tercapai dan rezim tumbang, apa yang terjadi tak beda jauh, malah persis seperti rezim pendahulunya. Oknum aktivis ‘98 yang dulu pernah terpenjara, pernah lantang dan garang menuntut keadilan dan rajin berunjuk rasa di jalanan justru sekarang duduk manis di parlemen sungguhan, di gedung dewan perwakilan rakyat-manusia. Para oknum-oknum aktivis yang menggantikan rezim tua yang sudah tak produktif, terlihat hanya senyum-senyum dan cengengesan saat ditanya dan menyikapi SI KONTOL PANJANG (Situasi, Kondisi, Toleransi, Pandangan dan Jangkauan) terhadap kondisi BU POEKSO (Budaya, Politik, Ekonomi dan Sosial) yang sedang terjadi di negeri ini. Suatu kondisi yang tidak juga berubah dengan rezim lama.


Tidak ada keadilan yang berlaku di negeri ni. Undang-undang yang seyogyanya diperuntukan untuk melindungi kaum dan manusia yang lemah lagi teraniaya, justru malah tidak bisa mengakomodir kepentingan rakyatnya. Jika tidak percaya, turunlah ke lapangan lalu berbaurlah dengan masyarakat yang menjadi korban semburan lumpur Lapindo, Korban limbah Newmont, korban ketimpangan sosial yang dilakukan Freeport di tanah Papua dan masih banyak lagi korban-korban yang dikorbankan oleh penguasa.


Apakah mereka para penguasa yang pernah berkuasa dan punya kuasa terpenjara oleh karena kesalahan dan dosa-dosanya? Tidak bukan! Mereka masih keluyuran bebas dan bahkan masih merusak lingkungan dan bahkan masih mengeksploitasi hasil bumi yang berdampak pada masyarakat luas. Dan lagi demi kepentingan negara dan kesejahteraan rakyatnyalah mereka para penguasa melakukan semua itu. Di negeri ini manusia yang punya kuasa berkuasa menguasai apa yang ingin dikuasai bahkan kuasanya melebihi mahakuasanya Tuhan.

Jika di pikir-pikir dengan kondisi yang saat ini sedang saya alami. Mungkin imbas dari penyeruan lantang saya terhadap kerusakan hutanlah penyebabnya. Apa pennguasa ini mendengar? Padahal saya hampir-hampir belum pernah mengkritik ataupun menghujat secara langsung kepada presiden dan aparatur yang tidak saya pilih di Pemilu 2009 kemarin, yang secara tak kasat mata jelas-jelas turut berpartisipasi menandatangani kerusakan hutan dalam bentuk HPH (Hak Pengusahaan Hutan).


Analisa saya bisa jadi benar. Mungkin suara dan tindakan saya yang frontal menyebabkan saya diculik, disekap dan terpenjara. Setelahnya saya akan dimintakan suaka ke negeri tetangga atau negara lain yang bermodal besar dengan cara dibarter dengan uang.


Hati-hati! Peringatan keras ditujukan bagi para aktivis sosial, politik, budaya, lingkungan dan aktivis lainnya. Jika tidak ingin mengalami nasib serupa yang pernah di alami aktivis ‘98, Aung San Suu Kyi ataupun saya. Jangan sekali-kali menentang kebijakan penguasa di negeri ini. Lebih baik diam, walau diam tak lagi menjadi emas. Atau jika konsisten dengan suara hati nurani teruskanlah tapi perlu di ingat janganlah menciderai rakyatmu yang diatasnamakan.

***


“Ndan, Semua sudah beres” Imin melapor kepada komandannya. “Semua orangutan sudah dimasukkan ke dalam peti”.


“Orangutan yang terluka dikotak nomor berapa, Min?” tanya komandan bambang.

“Nomer 3, Ndan!”

“Oh, sekarang angkat kotak-kotak itu ke mobil. Harap di ingat orangutan yang terluka dikotak berapa? Dan jangan lupa diobati” perintah komandan Bambang.


“Baik, Ndan! Laksanakan” jawab Imin. Ia pun pergi meninggalkan komandannya dan memerintahkan hal yang sama kepada Zulkifli untuk mengangkut dan memindah semua kotak ke mobil pikup.


Setelah kota-kota berpindah tempat di mobil pikup, Zulkifli berpamit kepada si empunya rumah. Sebagai balas jasa ia kembali memberi amplop yang berisi beberapa lembar uang berwarna hijau.

“Pak, Terima kasih atas titipan saya. Tolong dirahasikan apa yang saya titipkan.” Ujar Zulkifli berbasa-basi. Tangan kanan berjabat tangan sedang tangan kiri menyelipkan amplop putih di saku si empunya rumah.


“Iya pak sama-sama” jawab si empunya rumah ramah dan menengembalikan amplop putih itu kepada Zulkifli. “Ndak usah pak, ini dibawa saja. Mungkin bapak atau orang lain yang lebih membutuhkan daripada saya”.


“Ah terima saja, Pak. Anggap ini uang sebagai wujud terima kasih saya dan rekan-rekan.”

“Sudahlah Pak, bawa saja. Uang yang semalam masih utuh kok. Belum saya apa-apakan” ujar si empunya rumah menolak halus.


Zulkifli tengak-tengok kebelakang. Dengan gerakan super cepat ia memasukan amplop yang berisi uang itu dibalik saku jaketnya. “Baiklah pak, kalau begitu saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Sekali lagi atas nama rekan-rekan saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.”


“Iya, Pak! Hati-jati dijalan. Semoga Tuhan memberi keselamatan sampai tujuan”


Seusai berpamitan, Zulkifli bergabung dengan komplotannya yang sudah menunggu di mobil pikup. Perjalanan pun dilanjutkan. Saya yang terkurung didalam kotak, kembali berjalan mengikuti komplotan berseragam.


Jalan bergelombang, makadam dan perkebunan dilintasi. Saya mengintip dari balik lubang pernapasan. Banyaknya rumah-rumah dan kerlip lampu terpancar disana-sini. Mungkin sudah memasuki perkampungan manusia. Selain itu, terlihat hanyalah kebun-kebun sayur, buah dan palawija lainnya. Saya yakin sebelum adanya kebun awalnya adalah hutan yang sangat lebat. Indikasinya, masih ada bekas-bekas pohon yang besar yang berubah menjadi arang.


Perjalanan pun berlanjut semakin jauh hingga waktu tak terasa sudah menandakan pagi. Fajar menyinar menyibak kabut-kabut yang masih menyelimut. Pijarnya meyusup di celah-celah kotak. Pagi buta sampailah di sebuah rumah yang berfungsi sebagai kantor. Banyak manusia-manusia berseragam cokelat yang tidak saya ketahui namanya sedang menghormat bendera berwarna merah dan putih di halaman depan rumah.


Mobil pikup yang saya dan ke empat kawan sesama orangutan tumpangi memasuki pelataran rumah dan memarkirkannya tepat didepan pintu masuk.


“Apa tuh, Ndan?” tanya manusia berseragam cokelat berambut cepak.

“Biasa Barbuk!” jawab komandan Bambang.

“Barang bukti apa, Ndan!”

“Barbuk orangutan yang akan diselundupkan!”

“Wah Proyek besar nich!” puji manusia berseragam cokelat berambut cepak.

“Ah kau bisa saja!” jawab komandan Bambang tersenyum ramah.


Komandan Bambang pun memasuki ruang kantornya. Sedang saya dan kawan sesama orangutan didalam kotak yang berventisali minim dipindahtempatkan ke ruang berjeruji besi oleh orang-orang berseragam cokelat dan menguncinya rapat-rapat.


“Oh iya. Itu orangutan tolong dikasih makan!” perintah komandan Bambang kepada manusia berseragam cokelat berambut cepak yang juga menjadi bawahannya.


“Siap, Ndan!” jawabnya tegas dan berhormat lantas pergi meninggalkan ruangan.


Tak lama kemudian, manusia berseragam cokelat berambut cepak itu datang lagi dengan membawa standan pisang kemudian membaginya secara merata disetiap masing-masing kotak. Saya dengan sangat terpaksa, berhubung lapar akhirnya memakan juga. Tak terkecuali kawan-kawan sesama orangutan yang lain.


Suasana rumah yang berfungsi sebagai kantor mulai terasa ramai. Manusia-manusia berganti rupa datang dan pergi. Komandan Bambang beserta komplotannya tak memunculkan batang hidungnya. Mungkin komplotan itu keletihan dari kemarin melakukan operasi Gema Telik Sandi. Saya pastikan operasi yang dilakukan komandan Bambang dan komplotannya berjalan sukses. Sebab saya dan empat kawan sesama orangutan serta dua ekor babi dan seekor belibis berhasil terjaring dalam operasi tersebut. Namun sayangnya, kedua babi dan seekor belibis bernasib sial dan termakan oleh komplotan itu.***



Di sebuah rumah dekat Bantaran Kali Beji, 08 Juli 2010

Sempat mengalami kemandekan penulisan. Namun setelah melakukan perjalanan jauh pada tanggal 11-17 Juli, akhirnya Di Pinggiran Selokan Mataram, 19 Juli 2010 tulisan ini terselesaikan juga.

(WFY)




NB

· Ide cerita berawal dari kerapnya saya menonton Film “The Burning Season”, yang diperankan oleh Raul Julia dan disutradarai John Frankenheimer. Dan film “Tarzan” (tanpa huruf X). Dan sering mendengarkan lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”, pencipta Iwan Fals. “Berita Cuaca”, yang dipopulerkan Gombloh dan "Lautan Tangis"nya Sujiwo Tejo.

· Sumpah Tulisan ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa, baik itu laki-laki maupun perempuan. Jika ada kesamaan, nama, tempat, lakon, peristiwa dan atau jalannya alur cerita maka itu faktor kebetulan saja. Sekali lagi Sumpah! Tulisan ini murni fiktif.

· Beginilah di suatu negeri jika penguasanya tidak mau dikritik. Demi melanggengkan kekuasaan, lawan-lawan politiknya akan ditangkap dan dijebloskan di penjara dengan tuduhan menganggu stabilitas politik negara. Tapi akhir-akhir ini untuk membungkam lawan politik sedang ‘ngetren’ dengan tuduhan pencemaran nama baik. Berhati-hatilah.

Kamis, 05 Agustus 2010

Seandainya Orangutan Bisa Bicara (part IV)

Tragedi Kebinatangan

Mungkin, barangkali ada diantara kalian (baca; manusia) bertanya. Mengapa beberapa minggu ini saya tidak bersuara mengatasnamakan Gajah, Harimau, Badak, dan satwa lain? Tidak berbicara mengenai hutan dan segala kerusakannya? Kalian tahu mengapa? Bebarapa minggu yang lalu saya dan satwa lain diburu oleh pemburu satwa. Siapa mereka saya tidak tahu persis. Seingat saya, mereka adalah sekomplotan manusia berseragam cokelat, hitam dan yang lain gelap samar. Mereka memanggul senapan laras panjang. Jenisnya saya juga tidak tahu. Mungkin AK-47, M-16 atau senjata produk dalam negeri berupa SS-1 dan SS-2.

Komplotan itu, sekitar sepuluhan orang. Pada suatu malam disertai hujan yang mengguyur begitu lebat. Mereka menjebak saya dan kawan-kawan penghuni hutan yang lain. Pertama-tama mereka membuat suara gaduh dan mengagetkan semesta penghuni hutan yang sedang tertidur lelap. Komplotan itu menembakan beberapa butir peluru ke atas udara, kalau di film-film laga semacam tembakan peringatan bagi penjahat yang hendak melarikan diri. Spontan bin reflek, semua satwa kaget dan berhamburan tak tentu arah. Semua satwa berlarian terbirit-birit. Ada yang terjatuh, menabrak pohon dan ada juga yang saling bertabrak dengan sesama satwa. Malam itu suasana sangat mencekam.

Kawan-kawan saya terjebak dijeratan yang sudah dipasang sebelumnya. Yang lolos terpontang-panting entah kemana. Sedang saya yang berlari dengan maksud meloloskan diri, akhirnya tertembak di betis kaki kanan. Meski menahan rasa sakit yang tak terkira, dengan segala upaya saya terus melarikan diri dari penyergapan itu. Namun usaha yang saya lakukan ternyata sia-sia. Saya terjatuh dan tak sadarkan diri. Saat siuman saya sudah menghuni di kerangkeng.

Saya dan keempat Orangutan, dua babi serta seekor belibis terjaring dalam operasi GEMA TELIK SANDI (Genosida Massal Terhadap Lingkungan dan Satwa yang Dilindungi), yang dilakukan oleh komplotan manusia yang berseragam. Mereka menandu saya dan satwa lain di dalam kerangkeng. Di tengah perjalanan nasib malang menimpa belibis dan seekor babi. Kedua satwa itu disembelih dan dibakar lalu disantap secara berjamaah. Melihat semua itu saya tidak tega. Yang bisa dilakukan melihat tindakan keji, saya hanya menghujat “HARTO! Keji!”.

***

“Bismilahi Allahuakbar” manusia pertama menggorok leher babi hingga memuncratkan darah segar disekitar arena menjagal.

Selang beberapa jam kemudian.

“Babi guling sudah matang!” kata manusia pertama. “Mari makan”.

“Sip, ayo santap!” jawab manusia kedua.

“Wah enak nich!” celetuk manusia ketiga.

“Ayo-ayo, mari merapat. Mari makan. Keburu dingin. Yang tidak makan babi haram, makan belibis saja” Tawar manusia keempat.

“Wah lapar nich. Ayo makan. Sikat habis” manusia-manusia yang lain ribut mengerubut babi dan belibis guling.

“Astaghfirullah, tadi aku menyembelih babi haram mengucap asma allah” manusia pertama mengucap dalam hati. Namun ia tetap melahapnya. “Hmmmmmm. Sedaaaaaaaap. Maknyus” Kata manusia pertama, sambil menyantap paha babi dengan lahapnya.“Andai saja setiap hari makan ginian”.

“Makanya setiap hari kita berburu, Bang!” manusia keempat bersolusi.
“Kalau setiap hari berburu, kantor mencurigai kita, dodol!” tukas manusia pertama.
“”Ya gak setiap hari, bang! Minimal ya satu minggu sekalilah…” manusia kedua menyahut.

“Betul! Satu minggu sekali alangkah baik!” timpal manusia ketiga menyetujui usulan manusia kedua.

“Ya kita atur saja” jawab manusia pertama singkat.

“Aku sepakat teman-teman saja kalau begitu.” Ujar manusia keempat diplomatis.

“Satu minggu sekali? Deal?” tanya manusia ketiga.

“DEALLL!” jawab manusia kedua dan keempat serempak.

“Saya sepakat” manusia kedua melanjutkan.

“Diatur sajalah” jawab manusia pertama.

Setelah tawar menawar acara perburuan, komplotan itu berkelakar, ngobrol ngalor-ngidul dan sesekali bergosip tentang artis dan atasan mereka dikantornya. Sebagian manusia-manusia yang lain sudah tertidur pulas, kekenyangan.

Tinggallah kedua manusia yang masih terjaga. Saya yang berpura-pura tidur terus menguping dan mengamati tindak-tanduk kedua manusia itu. Sambil menyantap sisa daging yang masih menyempil di belulang. Dan rokok yang terus mengepul keduanya mengobrol.

“Ndan, kira-kira laku berapa kelima Orangutan itu?” manusia keempat bertanya kepada manusia pertama.

“Kalau satu ekornya dihargai 2juta. Berarti 10juta, Min!” Jawab manusia pertama sembari mengepul-ngepulkan asap rokok melalui mulutnya.

“Wah lumayan ya, Ndan!”

“Ya lumayan. Kalau bisa itu hewan di ekspor saja, Min. pasti harganya lebih mahal!” manusia pertama memberi saran.

“Di ekspor kemana, ndan?”

“Ya di ekspor keluar negerilah, Min-Imin. Kamu itu gimana tho?”

“Maksud saya dinegara mana, Ndan?” manusia pertama cengengesan.

“Ya di Cina kek, atau di manaalah. Denger-denger di Malaysia prospeknya cerah!”

“Tapi sekarang beacukai lagi ketat, Ndan! Sering banyak razia”.

“Gunakan akalmulah! Gimana caranya. Percuma dong kita sebagai polisi tidak tahu cara melihat celah! Dr. Azhari si teroris yang pandai saja kita bisa tangkap kok. Masa ekspor gituan aja kok ya gak bisa!”

“Itu dia, Ndan. Saya bingung?!”

“Saya kasih tahu ya. Polisi di negeri ini lebih pintar dan jeli ketimbang polisi Diraja Malaysia, atau polisi-polisi China dan Iran. Tuh lihat buktinya, di bandara banyak selundupan yag kita tangkap. Itu tandanya beacukai dan kepolisian di negara pengirim tidak teliti. Tidak cermat!” manusia pertama menjelaskan.

“Lho, kalau beacukai dan bandara di negara kita ketat. Bagaimana cara menyelundupkannya Orangutan itu, Ndan?” tanya manusia keempat sembari menunjuk saya di kerangkeng.

“Hush Mengeskpor!”

“Eh iya, Ndan. Maksud saya mengekspor!”

“Nah gitu dong. Meng-eks-por! Halah ketat jika ada momen saja, paling jika sudah di Sidak (Inspeksi Mendadak) normal kembali. Santai saja nanti dokumen pengesporannya kita fiktifkan. Tidak usah dari bandara, lebih amannya lewat jalur laut saja. Kita menyewa petikemas”. Jelas menusia pertama.

“Ide cerdas,” sanjung manusia keempat. “Ternyata komandan Bambang cerdik juga!”
“Jelas dong. Sayakan 4 tahun belajar kontraintelejen di Amrik” mendengar sanjungan itu manusia pertama menjadi besar kepala.

Dari dalam kerangkeng saya masih melihat gelagat picik kedua manusia yang belum juga tertidur. Saya paksakan untuk tetap terjaga, mendengarkan dan memantau semua kasak-kusuk percakapan. Ternyata kedua manusia berseragam cokelat itu adalah pekerja penegak hukum. Seorang komandan dan bawahannya.

“Ndan, masing-masing dapat berapa bagian?” tanya Imin.

“Ya sesuai tingkat kepangakatan!”.

“Lho kitakan kerjasama, Ndan!?”.

“Lho siapa yang mengomandani? Jika saya tidak ikut, kalian tidak bisa berburu! Yang mendatangani ijin perburuan kan saya!”

“Iya sich, Ndan!” apa kata komandan sajalah” Ujar Imin pasrah.

“Nah gitu. Saya 25%, kamu dan Polhut 20%. Sisanya dibagi rata untuk 6 orang cecunguk-cecunguk itu” kata bambang menunjuk 7 orang yang masih belum saya ketahui nama dan profesinya.

“Oklah, Ndan. Sepakat!”

“Eh sekarang jam berapa, Min?”

“Hampir jam 12, ndan!”

“Ayo lekas bergegas. Sebelum shubuh kita harus keluar dari hutan. Biasanya jam 6 pagi ada patroli polhut. Bangunkan teman-temanmu, Min!”.

“Siap, Ndan! Perintah laksanakan”

Imin pun tanpa tegap berhormat mematuhi perintah komandannya. Ia membangunkan teman-teman komplotannya yang masih tertidur lelap. Setelah terbangun, kesepuluh manusia sudah bersiap dan melanjutkan perjalanan keluar hutan. Saya dan keempat rekan sesama Orangutan serta satu babi yang masih tersisa dan hidup, di usung oleh empat orang secara bergilir. Seorang manusia berseragam hitam dan komandan Bambang berjalan didepan memandu menuju jalan keluar hutan.

Saya tidak tahu hendak dibawa kemana. Temaram bulan masih enggan memacar. tertutup mega-mega hitam serta pepohonan dan semak belukar. Malam begitu gelap gulita apalagi hujan masih memercik. Sepertinya komplotan itu melewati jalan yang bukan jalan setapak atau jalur yang biasa dilintasi manusia pada umumnya. Jalannya berkelok dan penuh liku. Saya pastikan, Komandan Bambang beserta jajaran komplotannya sudah hafal seluk beluk hutan yang lama saya tinggali.

***

“Jalannya dipercepat” Ujar komandan Bambang.

“Iya lebih cepat. Lebih baik” sambung manusia ketiga yang belum saya ketahui namanya.

“Siap, Ndan!” jawab Imin. “Ayo teman-teman, percepat langkah kita. Jangan sampai matahari mendahului terbit sebelum kaki kita menjejak di desa terakhir” Imin menyemangati teman-teman yang mengusung saya dan teman satwa lainnya.

Dua jam lamanya perjalanan belum juga keluar dari belantara hutan. Meski kaki-kaki berjalan cepat komplotan itu masih belum menemukan tanda-tanda adanya desa terakhir.

“Zulkifli!” Komandan Bambang memanggil manusia ketiga.

“Iya, Pak!”

“Ini kok jalan tidak sampai-sampai?”

“Masih Jauh, Pak!”

“Berapa Jam lagi? Berapa kilo lagi!”

“Susah pak kalau di hitung jam” jawab Zulkifli.

“Kamu ini Polisi hutan! Masa tidak tahu wilayahnya sich!” komandan Bambang berang.

“Ya mungkin 2 samapi 3 jam lagi, pak”

“Ya sudah. Saya capek. Istirahat dulu” komandan Bambang menghentikan langkah dan terduduk untuk beristirahat.

Imin dengan sigap mengambilkan air minum dari botolnya. Disamping itu ia memerintahkan komplotannya untuk beristirahat. Dan manusia ketiga itu, saya baru tahu kalau ia bernama Zulkifli yang bekerja sebagai Polisi Hutan di hutan tempat saya tinggal.

“Yudho, nanti teman-temanmu perintahkan untuk berjalan lebih cepat lagi ya?” bisik Zulkifli kepada manusia kedua. “Biar cepat selesai pekerjaan kita. Ndak enak sama pak Bambang”.

“Iya, bang! Saya usahakan. Lebih cepat lebih baik” jawab manusia kedua yang bernama Yudho.

Dan saya baru mengetahui bahwa Yudho dan kelima rekannya berprofesi sebagai penebang kayu di salah satu perusahaan ber-HPH. Dia tahu betul rute jalan masuk-keluar di hutan yang biasa Yudho dan rekan-rekan seprofesinya menebang pohon.
Setelah masing-masing menghabiskan satu gelas kopi dan sebatang rokok. Manusia yang berkomplot itu melanjutkan perjalanan. Zulkifli berjalan paling depan, sedang Yudho serta kelima rekannya berjalan ditengah dan menggotong kerangkeng tempat saya dan satwa lain terkurung. Sementara Komandan Bambang dan Imin berjalan membuntutinya dari belakang.

***

“Ndan, kira-kira sukses gak ya mengekspor Orangutan itu?”, tanya Imin ragu.

“Insya Allah, Min. Berdoa saja!” jawab Komandan Bambang datar.

“Takutnya saya!” Imin menggaruk-garuk kepala, meragu dan mulai bimbang.

“Takut apa, Min?” Hardik Komandan Bambang penasaran.

“Mmmm Saya takut” Imin gugup. “Takutnya saya, polisi di tingkat kabupaten mengetahui rencana kita, Ndan!”

“Halah ketakutanku berlebihan, Min! santai saja!”

“Gak begitu, Ndan! Seandainya tahu, kita bisa dipecat! Apa kata media? Mereka pasti melebih-lebihkan pemberitaannya!”

“Paling atasan kita mencap Oknum, Min! Makanya aku mengajak polhut dan para buruh kayu. Itu buat jaga-jaga jika sewaktu-waktu kita tertangkap”

“Maksudnya, Ndan!”.

“Ah kamu kayak tidak tahu aja. Pura-pura bodoh ya?”.

“Serius, Ndan! Saya benar-benar tidak tahu”.

“Ssssssssssssssst mereka yang kita jadikan korban!” Komandan bambang berbisik.

“Ahaay, benar juga, Ndan!”

“Sssssssssssssssssssssssst makanya jadi orang jangan kalah cerdik dengan kancil. Kancil aja bisa mengelabui buaya yang ganas. Masa kita tidak bisa mengelabui sesama manusia? Hehehehe”. Komandan Bambang masih berbisik terkekeh menyidir kedunguan anak buahnya.

“Iya.. ya.. Kancil aja cerdik, masa kita tidak” Imin cengengesan sambil teranggut-anggut.
“Itu dia!” jawab Komandan Bambang singkat sembari mengerlingkan mata. “Nanti saya yang atur strateginya. Posisi kamu saya pastikan aman. Kita tahu sama tahulah”.

“Siap, Ndan!” ujar Imin lirih seraya memberi hormat.

***

Tak terasa berjalan, adzan shubuhpun berkumandang. Komplotan manusia itu sudah menapaki perkebunan dan keluar dari hutan. Sebentar lagi pastinya akan sampai di desa terakhir pinggiran hutan.

“Pak, hampir sampai!” lapor Zulkifli. “Paling 15 menit lagi sampai di perkampungan pak”. Komandan Bambang hanya mengangguk mendengar laporan itu.

Komandan Bambang hanya diam. Mungkin ia sudah letih berjalan menyusur hutan yang masih lumayan lebat. Atau bisa jadi baru pertama kali ia melakukan perjalanan panjang menyusuri hutan. Saya yang sedari malam belum tertidur masih mengamati gerak-gerik para komplotan manusia. Dan limabelas menit kemudian.

“Pak, sudah sampai pak! Mau ditaruh dimana binatangnya, Pak? Zulkifli kembali melapor.

“Untuk sementara dititipkan atau disembunyikan saja dulu. Amankan dulu” pinta komandan Bambang.

“Disembunyikan di rumah penduduk aja, pak. Itu lebih aman”.

“Stop. Kalau ada yang melaporkan gimana?” Yudho memotong untuk bertanya.

“Bilang saja ini titipan dari polisi. Barang sitaan!” jawab Zulkifli.

“Sudah atur saja. Tidak usah diperdebatkan, nanti semua orang tahu” potong komandan Bambang menengahi.

Zulkifli pun berjalan ke salah satu rumah warga di kawasan pinggiran hutan. Rumah yang ditujunya, sebuah rumah reot berdinding bilik bambu.

“Tok…Tok…Tok…” Zulkifli mengetuk pintu rumah. “Ada orang tidak? Assalamualaikum. Selamat pagi.” Zulkifli memberi salam.

Selang beberapa saat dari dalam rumah terdengar suara laki-laki setengah renta menjawab salam. “walaikum salam” si empunya rumah membukakan pintu rumahnya. “Ada apa ya?” lelaki setengah renta itu gemetaran melihat banyak orang yang bertamu memakai seragam lengkap dengan senapan tertenteng dibahunya.

“Ssssssst”

“Apa salah saya, pak?” lelaki tua pemilik rumah tergagap dan ketakutan.

“Sssssssssst…. Jangan banyak cakap. Kamu tidak bersalah. Saya ingin titip di rumahmu” kata Zulkifli menerangkan tujuannya sembari menunjuk kerangkeng yang berisi saya dan satwa lain. “Jangan bilang siapa-siapa apa yang saya titipkan kepadamu” Zulkifli membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang berwarna hijau kepada si empunya rumah.

“Ba… ba… baik, pak!” kata si empunya rumah sambil menerima uang itu dengan tangan tergetar.

“Nanti malam. Kira-kira jam 9 malam saya ambil lagi.

“I…i…iya, pak”

Kerangkeng tempat saya berada dimasukkan kedalam rumah dan ditutupi dengan karung goni agar tidak dicurigai oleh penduduk setempat.

Komandan Bambang dan komplotannya pun pergi entah kemana. Mungkin mereka bersembunyi dan akan kembali kerumah itu sesuai janjinya menjelang malam nanti. Kini tinggallah saya dan teman-teman satwa yang lain beserta si empunya rumah.

***

Lelaki setengah renta itu masih terlihat gemetaran. Wajahnya pucat kecemasan menyiksa hatinya. Ia menutup pintu rapat-rapat dan memandang saya lekat-lekat. “Ya Tuhan…. Semoga ini tidak menjadi malapetaka yang menimpa rumah dan keluargaku” Lelaki tua itu mengepal tangan dan merapal doa dengan bibir yang tergetar.

Sedari tadi lelaki setengah renta tak terlihat sedikitpun menghitung beberapa lembar uang yang masih dalam genggamannya.

Saya yang letih, semalam tidak tertidur. Terasa lemas menjalar sekujur tubuh. Luka tembak di betis kaki kanan masih bersarang peluru. Lukanya tersumbat dengan sendirinya oleh gumpalan darah yang mengering.

Melihat saya dan satwa lain yang gelisah. Sang empunya rumah mencoba menghibur dengan memberikan setandan pisang yang diambil dari kebun belakang rumahnya. Ia baru menyadari luka yang saya derita, setelah melihat darah kering yang bercecer di lantai kerangkeng. Serta merta ia mengobati dengan cairan berbau menyengat hidung (alkohol) dan membalutkan kain yang dirobeknya dari sarung miliknya.

“Kasihan sekali kamu” kata lelaki setengah renta sambil mengelus-elus betis saya. “pasti kamu menahan perih yang luar biasa” ia berdecak prihatin.

Saya hanya pasrah saat lelaki itu mengobati dan membalurkan ramuan obat-obatan dikaki. “Terima kasih, pak. Semoga Tuhan membalas budi bapak” saya mengucap didalam hati dan berharap ia mendengarkan ucapan saya.

“Pasti kalian, ditangkap dan dijual atau diselundupkan. Andai saja aku punya kekuasaan, pasti kalian aku bebas lepaskan dan akan menangkap komplotan penyelundup itu” ia bicara sendiri, geram. “sayangnya aku hanya orang biasa yang tak bias berbuat apa-apa” keluhnya pasrah. “semoga kalian diberi keselamatan, amin” sekali lagi ia mengucap doa.

Saya yang merasa kesakitan karena efek pengobatan. Semakin lemas dan tak sadarkan diri.

***

Saya terbangun dan siuman ketika hidung saya mencium aroma daging yang terbakar. Saya tidak tahu, tepatnya jam berapa. Seingat saya, matahari sudah bergulir condong ke arah barat. Sudah petang. Bau daging yang terbakar itu membuat saya siuman. Setelah saya melirik ke kanan dan kiri, orang utan masih genap berjumlah lima ekor, termasuk saya. Ternyata, babilah yang sudah tidak ada. Saya berkesimpulan mungkin babilah yang dibakar guling.

Saya yang masih setengah sadar mencoba untuk tetap mengingat dan mengamati apa yang sedang terjadi.

Di luar rumah lamat-lamat terdengar perbincangan manusia.

“Mmmmm, itu dibalik babinya”

“Siap, Ndan!”

“Dikasih sedikit garam, Bang! Kurang asin nich!”

Mendengar percakapan itu tak asing lagi kedengarannya jika suara itu tak lain adalah manusia yang bernama Bambang, Imin dan Zulkifli. Tidak salah duga. Saya masih ingat suara-suara manusia itu.

“Selesai makan kita lanjutkan perjalanan” Seru komandan Bambang memerintah.

“Siap,Ndan!” Jawab Imin.

“Pak, kalau boleh saya usul. Jalannya agak malaman saja” Zulkifli memberi saran.

“Kayaknya kondisi belum aman, Pak!”

“Ya sudah atur bagaimana baiknya, Pli!” sahut Komandan Bambang.

Malam kembali menjelang. Tenang dalam gamang. Kicau burung hantu menambah suasa malam menjadi semakin syahdu bercampur duka. Saya dan keempat rekan sesama orangutan kembali dirundung kebimbangan. Seperti malam yang lalu, malam dimana kepanikan itu muncul serta merta dan hap kami pun tersergap. Di usung sampai di rumah lelaki setengah renta yang mengobati luka.

Saya bimbang, kawan yang lain bungkam. Mau diapakan kami? Mau dibawa kemana kami? Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujam dan datang bertubi sehingga saya tak mampu menjawab persoalan pelik ini. Hanyalah ke-sepuluh orang itu yang tahu. Kami tetap terbungkam! Menatap nanar diam tanpa kata.


Di Pinggiran Selokan Mataram, 04 Juli 2010
(WFY)

NB
• Ide cerita berawal dari kerapnya saya menonton Film “The Burning Season”, yang diperankan oleh Raul Julia dan disutradarai John Frankenheimer. Dan film “Tarzan” (tanpa huruf X). Dan sering mendengarkan lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”, pencipta Iwan Fals. “Berita Cuaca”, yang dipopulerkan Gombloh dan "Lautan Tangis"nya Sujiwo Tejo.

•Sumpah Tulisan ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa, baik itu laki-laki maupun perempuan. Jika ada kesamaan, nama, tempat, lakon, peristiwa dan atau jalannya alur cerita maka itu faktor kebetulan saja. Sekali lagi Sumpah! Tulisan ini murni fiktif.