Tampilkan postingan dengan label Pongo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pongo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Agustus 2010

Seandainya Orangutan Bisa Bicara (part IV)

Tragedi Kebinatangan

Mungkin, barangkali ada diantara kalian (baca; manusia) bertanya. Mengapa beberapa minggu ini saya tidak bersuara mengatasnamakan Gajah, Harimau, Badak, dan satwa lain? Tidak berbicara mengenai hutan dan segala kerusakannya? Kalian tahu mengapa? Bebarapa minggu yang lalu saya dan satwa lain diburu oleh pemburu satwa. Siapa mereka saya tidak tahu persis. Seingat saya, mereka adalah sekomplotan manusia berseragam cokelat, hitam dan yang lain gelap samar. Mereka memanggul senapan laras panjang. Jenisnya saya juga tidak tahu. Mungkin AK-47, M-16 atau senjata produk dalam negeri berupa SS-1 dan SS-2.

Komplotan itu, sekitar sepuluhan orang. Pada suatu malam disertai hujan yang mengguyur begitu lebat. Mereka menjebak saya dan kawan-kawan penghuni hutan yang lain. Pertama-tama mereka membuat suara gaduh dan mengagetkan semesta penghuni hutan yang sedang tertidur lelap. Komplotan itu menembakan beberapa butir peluru ke atas udara, kalau di film-film laga semacam tembakan peringatan bagi penjahat yang hendak melarikan diri. Spontan bin reflek, semua satwa kaget dan berhamburan tak tentu arah. Semua satwa berlarian terbirit-birit. Ada yang terjatuh, menabrak pohon dan ada juga yang saling bertabrak dengan sesama satwa. Malam itu suasana sangat mencekam.

Kawan-kawan saya terjebak dijeratan yang sudah dipasang sebelumnya. Yang lolos terpontang-panting entah kemana. Sedang saya yang berlari dengan maksud meloloskan diri, akhirnya tertembak di betis kaki kanan. Meski menahan rasa sakit yang tak terkira, dengan segala upaya saya terus melarikan diri dari penyergapan itu. Namun usaha yang saya lakukan ternyata sia-sia. Saya terjatuh dan tak sadarkan diri. Saat siuman saya sudah menghuni di kerangkeng.

Saya dan keempat Orangutan, dua babi serta seekor belibis terjaring dalam operasi GEMA TELIK SANDI (Genosida Massal Terhadap Lingkungan dan Satwa yang Dilindungi), yang dilakukan oleh komplotan manusia yang berseragam. Mereka menandu saya dan satwa lain di dalam kerangkeng. Di tengah perjalanan nasib malang menimpa belibis dan seekor babi. Kedua satwa itu disembelih dan dibakar lalu disantap secara berjamaah. Melihat semua itu saya tidak tega. Yang bisa dilakukan melihat tindakan keji, saya hanya menghujat “HARTO! Keji!”.

***

“Bismilahi Allahuakbar” manusia pertama menggorok leher babi hingga memuncratkan darah segar disekitar arena menjagal.

Selang beberapa jam kemudian.

“Babi guling sudah matang!” kata manusia pertama. “Mari makan”.

“Sip, ayo santap!” jawab manusia kedua.

“Wah enak nich!” celetuk manusia ketiga.

“Ayo-ayo, mari merapat. Mari makan. Keburu dingin. Yang tidak makan babi haram, makan belibis saja” Tawar manusia keempat.

“Wah lapar nich. Ayo makan. Sikat habis” manusia-manusia yang lain ribut mengerubut babi dan belibis guling.

“Astaghfirullah, tadi aku menyembelih babi haram mengucap asma allah” manusia pertama mengucap dalam hati. Namun ia tetap melahapnya. “Hmmmmmm. Sedaaaaaaaap. Maknyus” Kata manusia pertama, sambil menyantap paha babi dengan lahapnya.“Andai saja setiap hari makan ginian”.

“Makanya setiap hari kita berburu, Bang!” manusia keempat bersolusi.
“Kalau setiap hari berburu, kantor mencurigai kita, dodol!” tukas manusia pertama.
“”Ya gak setiap hari, bang! Minimal ya satu minggu sekalilah…” manusia kedua menyahut.

“Betul! Satu minggu sekali alangkah baik!” timpal manusia ketiga menyetujui usulan manusia kedua.

“Ya kita atur saja” jawab manusia pertama singkat.

“Aku sepakat teman-teman saja kalau begitu.” Ujar manusia keempat diplomatis.

“Satu minggu sekali? Deal?” tanya manusia ketiga.

“DEALLL!” jawab manusia kedua dan keempat serempak.

“Saya sepakat” manusia kedua melanjutkan.

“Diatur sajalah” jawab manusia pertama.

Setelah tawar menawar acara perburuan, komplotan itu berkelakar, ngobrol ngalor-ngidul dan sesekali bergosip tentang artis dan atasan mereka dikantornya. Sebagian manusia-manusia yang lain sudah tertidur pulas, kekenyangan.

Tinggallah kedua manusia yang masih terjaga. Saya yang berpura-pura tidur terus menguping dan mengamati tindak-tanduk kedua manusia itu. Sambil menyantap sisa daging yang masih menyempil di belulang. Dan rokok yang terus mengepul keduanya mengobrol.

“Ndan, kira-kira laku berapa kelima Orangutan itu?” manusia keempat bertanya kepada manusia pertama.

“Kalau satu ekornya dihargai 2juta. Berarti 10juta, Min!” Jawab manusia pertama sembari mengepul-ngepulkan asap rokok melalui mulutnya.

“Wah lumayan ya, Ndan!”

“Ya lumayan. Kalau bisa itu hewan di ekspor saja, Min. pasti harganya lebih mahal!” manusia pertama memberi saran.

“Di ekspor kemana, ndan?”

“Ya di ekspor keluar negerilah, Min-Imin. Kamu itu gimana tho?”

“Maksud saya dinegara mana, Ndan?” manusia pertama cengengesan.

“Ya di Cina kek, atau di manaalah. Denger-denger di Malaysia prospeknya cerah!”

“Tapi sekarang beacukai lagi ketat, Ndan! Sering banyak razia”.

“Gunakan akalmulah! Gimana caranya. Percuma dong kita sebagai polisi tidak tahu cara melihat celah! Dr. Azhari si teroris yang pandai saja kita bisa tangkap kok. Masa ekspor gituan aja kok ya gak bisa!”

“Itu dia, Ndan. Saya bingung?!”

“Saya kasih tahu ya. Polisi di negeri ini lebih pintar dan jeli ketimbang polisi Diraja Malaysia, atau polisi-polisi China dan Iran. Tuh lihat buktinya, di bandara banyak selundupan yag kita tangkap. Itu tandanya beacukai dan kepolisian di negara pengirim tidak teliti. Tidak cermat!” manusia pertama menjelaskan.

“Lho, kalau beacukai dan bandara di negara kita ketat. Bagaimana cara menyelundupkannya Orangutan itu, Ndan?” tanya manusia keempat sembari menunjuk saya di kerangkeng.

“Hush Mengeskpor!”

“Eh iya, Ndan. Maksud saya mengekspor!”

“Nah gitu dong. Meng-eks-por! Halah ketat jika ada momen saja, paling jika sudah di Sidak (Inspeksi Mendadak) normal kembali. Santai saja nanti dokumen pengesporannya kita fiktifkan. Tidak usah dari bandara, lebih amannya lewat jalur laut saja. Kita menyewa petikemas”. Jelas menusia pertama.

“Ide cerdas,” sanjung manusia keempat. “Ternyata komandan Bambang cerdik juga!”
“Jelas dong. Sayakan 4 tahun belajar kontraintelejen di Amrik” mendengar sanjungan itu manusia pertama menjadi besar kepala.

Dari dalam kerangkeng saya masih melihat gelagat picik kedua manusia yang belum juga tertidur. Saya paksakan untuk tetap terjaga, mendengarkan dan memantau semua kasak-kusuk percakapan. Ternyata kedua manusia berseragam cokelat itu adalah pekerja penegak hukum. Seorang komandan dan bawahannya.

“Ndan, masing-masing dapat berapa bagian?” tanya Imin.

“Ya sesuai tingkat kepangakatan!”.

“Lho kitakan kerjasama, Ndan!?”.

“Lho siapa yang mengomandani? Jika saya tidak ikut, kalian tidak bisa berburu! Yang mendatangani ijin perburuan kan saya!”

“Iya sich, Ndan!” apa kata komandan sajalah” Ujar Imin pasrah.

“Nah gitu. Saya 25%, kamu dan Polhut 20%. Sisanya dibagi rata untuk 6 orang cecunguk-cecunguk itu” kata bambang menunjuk 7 orang yang masih belum saya ketahui nama dan profesinya.

“Oklah, Ndan. Sepakat!”

“Eh sekarang jam berapa, Min?”

“Hampir jam 12, ndan!”

“Ayo lekas bergegas. Sebelum shubuh kita harus keluar dari hutan. Biasanya jam 6 pagi ada patroli polhut. Bangunkan teman-temanmu, Min!”.

“Siap, Ndan! Perintah laksanakan”

Imin pun tanpa tegap berhormat mematuhi perintah komandannya. Ia membangunkan teman-teman komplotannya yang masih tertidur lelap. Setelah terbangun, kesepuluh manusia sudah bersiap dan melanjutkan perjalanan keluar hutan. Saya dan keempat rekan sesama Orangutan serta satu babi yang masih tersisa dan hidup, di usung oleh empat orang secara bergilir. Seorang manusia berseragam hitam dan komandan Bambang berjalan didepan memandu menuju jalan keluar hutan.

Saya tidak tahu hendak dibawa kemana. Temaram bulan masih enggan memacar. tertutup mega-mega hitam serta pepohonan dan semak belukar. Malam begitu gelap gulita apalagi hujan masih memercik. Sepertinya komplotan itu melewati jalan yang bukan jalan setapak atau jalur yang biasa dilintasi manusia pada umumnya. Jalannya berkelok dan penuh liku. Saya pastikan, Komandan Bambang beserta jajaran komplotannya sudah hafal seluk beluk hutan yang lama saya tinggali.

***

“Jalannya dipercepat” Ujar komandan Bambang.

“Iya lebih cepat. Lebih baik” sambung manusia ketiga yang belum saya ketahui namanya.

“Siap, Ndan!” jawab Imin. “Ayo teman-teman, percepat langkah kita. Jangan sampai matahari mendahului terbit sebelum kaki kita menjejak di desa terakhir” Imin menyemangati teman-teman yang mengusung saya dan teman satwa lainnya.

Dua jam lamanya perjalanan belum juga keluar dari belantara hutan. Meski kaki-kaki berjalan cepat komplotan itu masih belum menemukan tanda-tanda adanya desa terakhir.

“Zulkifli!” Komandan Bambang memanggil manusia ketiga.

“Iya, Pak!”

“Ini kok jalan tidak sampai-sampai?”

“Masih Jauh, Pak!”

“Berapa Jam lagi? Berapa kilo lagi!”

“Susah pak kalau di hitung jam” jawab Zulkifli.

“Kamu ini Polisi hutan! Masa tidak tahu wilayahnya sich!” komandan Bambang berang.

“Ya mungkin 2 samapi 3 jam lagi, pak”

“Ya sudah. Saya capek. Istirahat dulu” komandan Bambang menghentikan langkah dan terduduk untuk beristirahat.

Imin dengan sigap mengambilkan air minum dari botolnya. Disamping itu ia memerintahkan komplotannya untuk beristirahat. Dan manusia ketiga itu, saya baru tahu kalau ia bernama Zulkifli yang bekerja sebagai Polisi Hutan di hutan tempat saya tinggal.

“Yudho, nanti teman-temanmu perintahkan untuk berjalan lebih cepat lagi ya?” bisik Zulkifli kepada manusia kedua. “Biar cepat selesai pekerjaan kita. Ndak enak sama pak Bambang”.

“Iya, bang! Saya usahakan. Lebih cepat lebih baik” jawab manusia kedua yang bernama Yudho.

Dan saya baru mengetahui bahwa Yudho dan kelima rekannya berprofesi sebagai penebang kayu di salah satu perusahaan ber-HPH. Dia tahu betul rute jalan masuk-keluar di hutan yang biasa Yudho dan rekan-rekan seprofesinya menebang pohon.
Setelah masing-masing menghabiskan satu gelas kopi dan sebatang rokok. Manusia yang berkomplot itu melanjutkan perjalanan. Zulkifli berjalan paling depan, sedang Yudho serta kelima rekannya berjalan ditengah dan menggotong kerangkeng tempat saya dan satwa lain terkurung. Sementara Komandan Bambang dan Imin berjalan membuntutinya dari belakang.

***

“Ndan, kira-kira sukses gak ya mengekspor Orangutan itu?”, tanya Imin ragu.

“Insya Allah, Min. Berdoa saja!” jawab Komandan Bambang datar.

“Takutnya saya!” Imin menggaruk-garuk kepala, meragu dan mulai bimbang.

“Takut apa, Min?” Hardik Komandan Bambang penasaran.

“Mmmm Saya takut” Imin gugup. “Takutnya saya, polisi di tingkat kabupaten mengetahui rencana kita, Ndan!”

“Halah ketakutanku berlebihan, Min! santai saja!”

“Gak begitu, Ndan! Seandainya tahu, kita bisa dipecat! Apa kata media? Mereka pasti melebih-lebihkan pemberitaannya!”

“Paling atasan kita mencap Oknum, Min! Makanya aku mengajak polhut dan para buruh kayu. Itu buat jaga-jaga jika sewaktu-waktu kita tertangkap”

“Maksudnya, Ndan!”.

“Ah kamu kayak tidak tahu aja. Pura-pura bodoh ya?”.

“Serius, Ndan! Saya benar-benar tidak tahu”.

“Ssssssssssssssst mereka yang kita jadikan korban!” Komandan bambang berbisik.

“Ahaay, benar juga, Ndan!”

“Sssssssssssssssssssssssst makanya jadi orang jangan kalah cerdik dengan kancil. Kancil aja bisa mengelabui buaya yang ganas. Masa kita tidak bisa mengelabui sesama manusia? Hehehehe”. Komandan Bambang masih berbisik terkekeh menyidir kedunguan anak buahnya.

“Iya.. ya.. Kancil aja cerdik, masa kita tidak” Imin cengengesan sambil teranggut-anggut.
“Itu dia!” jawab Komandan Bambang singkat sembari mengerlingkan mata. “Nanti saya yang atur strateginya. Posisi kamu saya pastikan aman. Kita tahu sama tahulah”.

“Siap, Ndan!” ujar Imin lirih seraya memberi hormat.

***

Tak terasa berjalan, adzan shubuhpun berkumandang. Komplotan manusia itu sudah menapaki perkebunan dan keluar dari hutan. Sebentar lagi pastinya akan sampai di desa terakhir pinggiran hutan.

“Pak, hampir sampai!” lapor Zulkifli. “Paling 15 menit lagi sampai di perkampungan pak”. Komandan Bambang hanya mengangguk mendengar laporan itu.

Komandan Bambang hanya diam. Mungkin ia sudah letih berjalan menyusur hutan yang masih lumayan lebat. Atau bisa jadi baru pertama kali ia melakukan perjalanan panjang menyusuri hutan. Saya yang sedari malam belum tertidur masih mengamati gerak-gerik para komplotan manusia. Dan limabelas menit kemudian.

“Pak, sudah sampai pak! Mau ditaruh dimana binatangnya, Pak? Zulkifli kembali melapor.

“Untuk sementara dititipkan atau disembunyikan saja dulu. Amankan dulu” pinta komandan Bambang.

“Disembunyikan di rumah penduduk aja, pak. Itu lebih aman”.

“Stop. Kalau ada yang melaporkan gimana?” Yudho memotong untuk bertanya.

“Bilang saja ini titipan dari polisi. Barang sitaan!” jawab Zulkifli.

“Sudah atur saja. Tidak usah diperdebatkan, nanti semua orang tahu” potong komandan Bambang menengahi.

Zulkifli pun berjalan ke salah satu rumah warga di kawasan pinggiran hutan. Rumah yang ditujunya, sebuah rumah reot berdinding bilik bambu.

“Tok…Tok…Tok…” Zulkifli mengetuk pintu rumah. “Ada orang tidak? Assalamualaikum. Selamat pagi.” Zulkifli memberi salam.

Selang beberapa saat dari dalam rumah terdengar suara laki-laki setengah renta menjawab salam. “walaikum salam” si empunya rumah membukakan pintu rumahnya. “Ada apa ya?” lelaki setengah renta itu gemetaran melihat banyak orang yang bertamu memakai seragam lengkap dengan senapan tertenteng dibahunya.

“Ssssssst”

“Apa salah saya, pak?” lelaki tua pemilik rumah tergagap dan ketakutan.

“Sssssssssst…. Jangan banyak cakap. Kamu tidak bersalah. Saya ingin titip di rumahmu” kata Zulkifli menerangkan tujuannya sembari menunjuk kerangkeng yang berisi saya dan satwa lain. “Jangan bilang siapa-siapa apa yang saya titipkan kepadamu” Zulkifli membuka dompet dan menyodorkan beberapa lembar uang berwarna hijau kepada si empunya rumah.

“Ba… ba… baik, pak!” kata si empunya rumah sambil menerima uang itu dengan tangan tergetar.

“Nanti malam. Kira-kira jam 9 malam saya ambil lagi.

“I…i…iya, pak”

Kerangkeng tempat saya berada dimasukkan kedalam rumah dan ditutupi dengan karung goni agar tidak dicurigai oleh penduduk setempat.

Komandan Bambang dan komplotannya pun pergi entah kemana. Mungkin mereka bersembunyi dan akan kembali kerumah itu sesuai janjinya menjelang malam nanti. Kini tinggallah saya dan teman-teman satwa yang lain beserta si empunya rumah.

***

Lelaki setengah renta itu masih terlihat gemetaran. Wajahnya pucat kecemasan menyiksa hatinya. Ia menutup pintu rapat-rapat dan memandang saya lekat-lekat. “Ya Tuhan…. Semoga ini tidak menjadi malapetaka yang menimpa rumah dan keluargaku” Lelaki tua itu mengepal tangan dan merapal doa dengan bibir yang tergetar.

Sedari tadi lelaki setengah renta tak terlihat sedikitpun menghitung beberapa lembar uang yang masih dalam genggamannya.

Saya yang letih, semalam tidak tertidur. Terasa lemas menjalar sekujur tubuh. Luka tembak di betis kaki kanan masih bersarang peluru. Lukanya tersumbat dengan sendirinya oleh gumpalan darah yang mengering.

Melihat saya dan satwa lain yang gelisah. Sang empunya rumah mencoba menghibur dengan memberikan setandan pisang yang diambil dari kebun belakang rumahnya. Ia baru menyadari luka yang saya derita, setelah melihat darah kering yang bercecer di lantai kerangkeng. Serta merta ia mengobati dengan cairan berbau menyengat hidung (alkohol) dan membalutkan kain yang dirobeknya dari sarung miliknya.

“Kasihan sekali kamu” kata lelaki setengah renta sambil mengelus-elus betis saya. “pasti kamu menahan perih yang luar biasa” ia berdecak prihatin.

Saya hanya pasrah saat lelaki itu mengobati dan membalurkan ramuan obat-obatan dikaki. “Terima kasih, pak. Semoga Tuhan membalas budi bapak” saya mengucap didalam hati dan berharap ia mendengarkan ucapan saya.

“Pasti kalian, ditangkap dan dijual atau diselundupkan. Andai saja aku punya kekuasaan, pasti kalian aku bebas lepaskan dan akan menangkap komplotan penyelundup itu” ia bicara sendiri, geram. “sayangnya aku hanya orang biasa yang tak bias berbuat apa-apa” keluhnya pasrah. “semoga kalian diberi keselamatan, amin” sekali lagi ia mengucap doa.

Saya yang merasa kesakitan karena efek pengobatan. Semakin lemas dan tak sadarkan diri.

***

Saya terbangun dan siuman ketika hidung saya mencium aroma daging yang terbakar. Saya tidak tahu, tepatnya jam berapa. Seingat saya, matahari sudah bergulir condong ke arah barat. Sudah petang. Bau daging yang terbakar itu membuat saya siuman. Setelah saya melirik ke kanan dan kiri, orang utan masih genap berjumlah lima ekor, termasuk saya. Ternyata, babilah yang sudah tidak ada. Saya berkesimpulan mungkin babilah yang dibakar guling.

Saya yang masih setengah sadar mencoba untuk tetap mengingat dan mengamati apa yang sedang terjadi.

Di luar rumah lamat-lamat terdengar perbincangan manusia.

“Mmmmm, itu dibalik babinya”

“Siap, Ndan!”

“Dikasih sedikit garam, Bang! Kurang asin nich!”

Mendengar percakapan itu tak asing lagi kedengarannya jika suara itu tak lain adalah manusia yang bernama Bambang, Imin dan Zulkifli. Tidak salah duga. Saya masih ingat suara-suara manusia itu.

“Selesai makan kita lanjutkan perjalanan” Seru komandan Bambang memerintah.

“Siap,Ndan!” Jawab Imin.

“Pak, kalau boleh saya usul. Jalannya agak malaman saja” Zulkifli memberi saran.

“Kayaknya kondisi belum aman, Pak!”

“Ya sudah atur bagaimana baiknya, Pli!” sahut Komandan Bambang.

Malam kembali menjelang. Tenang dalam gamang. Kicau burung hantu menambah suasa malam menjadi semakin syahdu bercampur duka. Saya dan keempat rekan sesama orangutan kembali dirundung kebimbangan. Seperti malam yang lalu, malam dimana kepanikan itu muncul serta merta dan hap kami pun tersergap. Di usung sampai di rumah lelaki setengah renta yang mengobati luka.

Saya bimbang, kawan yang lain bungkam. Mau diapakan kami? Mau dibawa kemana kami? Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujam dan datang bertubi sehingga saya tak mampu menjawab persoalan pelik ini. Hanyalah ke-sepuluh orang itu yang tahu. Kami tetap terbungkam! Menatap nanar diam tanpa kata.


Di Pinggiran Selokan Mataram, 04 Juli 2010
(WFY)

NB
• Ide cerita berawal dari kerapnya saya menonton Film “The Burning Season”, yang diperankan oleh Raul Julia dan disutradarai John Frankenheimer. Dan film “Tarzan” (tanpa huruf X). Dan sering mendengarkan lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”, pencipta Iwan Fals. “Berita Cuaca”, yang dipopulerkan Gombloh dan "Lautan Tangis"nya Sujiwo Tejo.

•Sumpah Tulisan ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa, baik itu laki-laki maupun perempuan. Jika ada kesamaan, nama, tempat, lakon, peristiwa dan atau jalannya alur cerita maka itu faktor kebetulan saja. Sekali lagi Sumpah! Tulisan ini murni fiktif.

Rabu, 30 Juni 2010

Seandainya Orangutan Bisa Bicara (part II)

Orangutan dan Kancil yang Mendongeng

Salam sejahtera untuk kalian (baca: manusia). Semoga Tuhan masih melindungi bumi beserta isinya, tak terkecuali kita dan para makhluk yang hidup di bumi. Saya atas nama gajah, kera, harimau dan beragam satwa berjenis kelamin jantan dan betina melanjutkan cerita, jerit tangis dan juga keluh kesah yang sedang kami (baca: satwa) alami.


Sekedar mengingatkan, sayalah yang terusir, terbunuh secara sistematik dan diambang batas kepunahan. Saya yang mengumpat dengan nama kalian seperti; Susila, Hitler dan Ka’ban. Semoga kalian masih mempunyai daya ingat yang kuat. Dan ketahuilah sayalah “pelacur” yang jalang. Ups maaf, bukan bermaksud merendahkan martabat kalian yang berjenis kelamin perempuan, yang bekerja sebagai pekerja seks komersial. Pelacur yang saya maksud hanyalah akronim. Baiklah saya ulang, sayalah pelaku curhat yang menyesalkan perbuatan kalian di hutan-hutan kami, tempat berlindung dan mencari nafkah serta bertumbuh kembang atau beranak-pinak dalam rangka meneruskan garis keturunan kami.


Masih ingatkah dengan saya? Mestinya kalian yang merasa pecinta binatang tahu dan mengerti betul siapa saya. Saya ingatkan, berdasar analisa yang dilakukan kalian, pernah juga dimuat di Koran Kompas tertanggal 12 april 2010, bahwasannya, habitat orangutan di Sumatera maupun Kalimantan kian terancam oleh pembukaan hutan. Sejumlah survei populasi orangutan antara 2004-2008 memperkirakan populasi orangutan di Sumatera tinggal 7.000 ekor dan di Kalimantan tinggal 54.567 ekor.

Semoga data yang saya paparkan menjadi bahan renungan kalian, betapa pentingnya hutan dan ekosistem yang ada di bumi.


Jika kalian masih bebal atau malas mengingat siapa saya? Saya adalah binatang yang oleh kalian diberi nama, entah siapa yang memberi nama. Umumnya nama saya, seperti halnya nama-nama tumbuhan. Biasanya diambil dari nama kalian yang memberi nama. Pemberian nama itu diberikan kalian berdasarkan tempat atau habitat saya. Misalnya, Pongo Pygmaeous orangutan di Kalimantan. Untuk habitat orangutan Sumatera yaitu Pongo Abelii. Mungkin di belahan bumi ini masih banyak nama Pongo-Pongo yang lain. Tapi untuk mempermudah dan gampang di ingat alangkah baiknya jika saya, Pongo Pygmaeous, yang mewakili dari sekian banyak Pongo-Pongo yang ada di bumi. Atau jika susah menyebut bahasa asing panggil saya orangutan saja.

***



“ Aum… Hrrrg” Harimau mengaum di pagi hari tatkala fajar menyinar belum sempurna. Masih pagi, embun yang menitik dan kabut masih menyelimut. Rimba raya beringsut ramai oleh kicau burung-burung mengabar pagi. Semua satwa terbangun dan memulai aktivitas naluriahnya. Dan kalian pun sama, terbangun lalu berutinitas, yang biasa kalian sebut sebagai mencari nafkah.


Di hutan, gergaji mesin mulai menderu, suara kapak yang beradu dengan kayu mulai berirama dan berkesinambungan. Yang tak kalah berisiknya, suara parang yang kalian tebas pada ranting-ranting kayu. Tak sadarkah kalian, bunyi-bunyi yang kalian ciptakan itu termasuk sampah audio. Kalian memang manusia pembuat sampah.


“Tekukur kur.. Kuk deruk kuok… Cit cit cit cuit” musik yang berasal dari burung-burung sebagai penghantar kami mengisi pagi pun terkalahkan dengan suara-suara yang kalian buat. Bising! Bisakah matikan gergaji mesinmu barang satu atau dua minggu, agar ilalang tumbuh mengganti pohon?


Betul kata kalian, saat yang tenang adalah di malam hari. Begitu sunyi, hening tercipta dengan suasana hewan malam yang saling bersahut. Jangkrik mengerik, suara sumbang burung gagak. Hem, walau alunannya tak semerdu kicau burung di pagi hari. Sungguh sangat menenteramkan suasana. Namun beberapa gelintir di antara kalian, masih saja mengganggu keheningan malam. Maling kelas bayi, membalak pada malam hari. Hei, dimana polisi hutan selama ini? Apakah sudah lelah meronda? Hah kecolongan lagi.


Hasan!!! Bah, kalian memaksaku untuk mengumpat. Sungguh sebenarnya saya tidak ingin mengumpat kali ini. Untuk kesekian kali pula saya meminta maaf jika saya mengumpat memakai nama manusia. Begitupun umpatan kalian yang sering menggunakan nama binatang. Aku tidak mempersoalkan.


Hei-hei tunggu dulu, tersiar kabar burung elang dihutan Kalimantan, kalian yang berprofesi sebagai polisi membekingi, melindungi cukong-cukong kayu dan anehnya lagi-lagi (alasan : pembenaran) bahwa pelindung cukong itu adalah oknum. Sudah menjadi rahasia umum, jika ada institusi yang salah satu dari anggotanya menyambi sebagai pelindung mafia-mafia kayu. Oh sepertinya bukan hanya itu. Bandar judi, miras, dan lokalisasi pun dilindungi dan lagi kalian tahu apa jawaban dari pemimpin institusi itu? Oknum! Hanya itu, ya itu saja, tidak lebih. Oknum kok banyak!


“Nguk nguk nguk” kalian tahu suara apa itu? Jika kalian mempunyai daya linuwih seperti nabi Sulaiman, kalian pasti akan tahu bahwa suara monyet itu mengisahkan kegundahan hatinya, katanya; makanan tak ada, aku tak sanggup lagi survival, sebab hutan sudah habis ditebang. Kira- kira seperti itu jika diterjemahkan dengan bahasa kalian.


Hei-hei kalian jangan marah atau merasa kebakaran jenggot. Benar jika saya mengatakan tanpa di imbangi data yang akurat. Apa yang saya paparkan berdasar kabar burung Beo yang pandai meniru ucapan manusia. Itu acuan data yang kami punyai. Data yang tersebar dari mulut ke mulut. Dari mulut manusia sampai ke mulut burung Beo.


Takutnya kalian memidanakan saya dengan tuduhan fitnah ataupun pencemaran nama baik. Tapi kok banyak teman-teman saya di penjara di kebun-kebun binatang atau taman-taman safari. Mereka itu tidak bersalah lho! Memang di negeri ini jika berkata kebenaran dan keadilan masih diisolasi di ruang-ruang penjara.

***



Hem saya bosan berbicara fakta dan cerita. Sepertinya saya kehabisan kata-kata untuk mencerahkan pikiran jahat manusia yang membabat hutan tempat lindung kami. Saya ingin berdongeng sajalah.


Alkisah di hutan Pegunungan Hyang, Argopuro[i]. Hiduplah sepasang Kancil mungkin usianya sekitar 1,5 tahun. Boleh dibilang remaja dan dalam masa puber. Tentunya kita masih ingat bukan? Itu lho lagu si Kancil anak nakal suka mencuri timun dan seterusnya. Saya lupa terusan lagu dan penciptanya. Maaf, kalau ada yang masih mengingatnya berarti kalian mengalami masa kanak-kanak dengan bahagia. Bapak atau ibu kalian pastinya orang baik, sebab masih sempat menyanyikan untuk kalian lagu itu sebelum tidur.


Nah di hutan Argopuro itu tinggallah sepasang Kancil yang bernama Kankan, kancil Jantan dan Cilcil, kancil betina.


“ Kan, hewan yang yang lain pada kemana ya?” Tanya Cilcil

“Wah aku tidak tahu, Cil” jawab Kankan

“Wah sepi ya hutan kita”

“Ah gak, biasa aja tuch, kan masih ada aku” Kankan bercanda agak genit

“Heh enak aja, jangan GR[ii] dulu lah. Emangnya aku mau apa sama kamu?” Cilcil menanggapi dengan sewot, mungkin dikiranya Kankan mengajak dirinya untuk berpagut mesra. Maklum di hutan cuma ada mereka berdua, apalagi suasana juga mendukung untuk itu


“Maksudku pada kemana si Merak, Lutung, Babi dan binatang yang lain? Kok tumben mereka-mereka tidak kelihatan untuk mencari makan?”


“ Ah mungkin mereka enggan menampakkan diri di depan kita. Bisa jadi mereka memberi kesempatan untuk kita berdua disini.”


“Ih apa sich, Kan?” Cilcil pergi meninggalkan Kankan seorang diri. Di dalam hati dia menggerutu “Memang susah berdiskusi dengan si jantan”

“Hei tunggu, jangan pergi dulu. Kok sensitif banget sich” berlari dan menghadang langkah Cilcil. “Aku kasih tahu sesuatu....”

“Apa itu?” jawab Cilcil yang masih menunjukkan muka sewot.

“Tidakkah kau merasa panas beberapa hari ini?”

“Ya, so what gitu loch[iii].” Cilcil memasang muka masam

“Tahukah apa penyebabnya?”

“Matahari bersinar terik dan panas”

“Selain itu?”

“Tak tahu lah. Emang gue pikirin?”

“Hutan di sebelah utara hangus terbakar”

“Hah! Lalu?”

“Menjawab pertanyaanmu yang tadi. Mengapa satwa lain tidak kelihatan? Ya itu sebabnya. Kebakaran hutan! Mereka berpindah tempat dan mencari perlindungan.”

“Siapa yang membakar?” Tanya Cilcil geram sebab merasa kehilangan teman satwa yang lain.

“Tak tahulah, emang gue pikirin” balas Kankan meniru ucapan Cilcil.

“Heh aku serius!!!” Cilcil membentak.

“Aku cuma bercanda kok. Katanya kabar-kabar burung sich karena matahari bersinar terik dan panas sekali. Mungkin matahari murka? Dan ada hembusan kabar burung yang lain mengatakan hutan yang terbakar itu memang sengaja dibakar” Kankan menjelaskan.

“Maksudnya?”

“Masak kamu tidak tahu sich?? Sengaja dibakar untuk dijadikan lahan perkebunan!”

“Oh…. Baguslah!”

“Lho kok gitu sich?”

“Iya kan kita bisa mencuri timun” jawab Cilcil terbahak.


“Huh kamu itu ya, tak beda jauh dengan pola pikir manusia. Oportunis[iv]!” gerutu si Kankan dengan jengkel. “Kamu mau kehilangan teman-teman kita yang lain? Teman-teman yang selama ini hidup di hutan?”


“Halah gitu aja sewot. Lagian aku Cuma bercanda kok!” terang Cilcil, masih menahan tawa.

“Bercandamu keterlaluan. TER…LA…LU” Kankan mencomel.

“Piss, Bung.. Peace. Damai, OK?” Cilcil meminta maaf sambil mengacungkan dua jarinya membentuk huruf “V[v]”.


Dan sepasang kancil itu terbahak-bahak menertawakan diri dan kelakuannya sendiri.

“Sini aku ceritakan sesuatu” kata Kankan sambil menggandeng tangan dan duduk dibawah pohon rindang.


“Apa?? Lekaslah bercerita” Cilcil berseru, dengan muka terheran. Cilcil menuruti apa yang dikatakannya.


“Sohibul hikayat. Dahulu kala ada sepasang kumbang yang bertanya seperti yang barusan kau tanyakan. Dimana teman-teman satwa kita? Dan jawabnya, sama seperti yang kukatakan kepadamu. Namun setelahnya, sepasang kumbang itu berandai-andai jika sang Pencipta memberi kesempatan. Mereka akan menjadi seperti apa yang diharapkan di masing-masing kepalanya” cerita terhenti. Kankan berlari menuju ke sebuah sungai yang hampir kering “Tunggu di sini, aku segera kembali”


“Hei, mau kemana? Ikuuuuut!” Cilcil berlari membuntutinya.

“Kenapa mengikutiku?” Tanya Kankan. “Bukankah tadi aku menyuruhmu menunggu?”

“Aku takut sendirian disana. Sepi tak ada seekor satwa pun yang menemani. Lagian aku juga haus.” ujar Cilcil beralasan.


“Gitu aja kok takut sich? Aku tadi ingin membawakanmu air.”

“Aku takut sepi” Cilcil mengucapkannya malu-malu “Tapi kan aku bisa mengambil minum sendiri”

“Wah kamu membatalkan rencanaku!”

“Rencana apa, Kan?”

“Sesekali melakukan hal yang romantis kepadamu bolehkan? Niatku tadi mau mengambilkan air untukmu dan juga setangkai edelwise[vi] itu.” Kankan menunjuk bunga abadi yang letaknya tidak jauh dari mereka berdua.


“Ah kamu” Cilcil tersipu malu. Dan sepasang kancil itu pun terdiam.

“Eh bagaimana kelanjutan cerita si kumbang tadi, Kan?

“Eh iya, Cil. Baiklah aku lanjutkan. Mari duduk disitu” Kankan menuntun dengan hati-hati ke tepian sungai, diatas batu granit mereka berdua duduk. “Si kumbang Jantan memilih menjadi singa. “Apa alasanmu, Bang?” Tanya si kumbang betina. “Iya aku ingin menjadi raja dari segala raja yang ada di belantara hutan. Makanku enak, daging. Minumku madu. Tubuhku kuat lagi kekar. Lariku gesit dan binatang lain tak berani denganku”. “Tapikan sekarang di hutan sepi. Tak ada satwa! Dapat darimana daging dan madunya?” si kumbang betina memotong. “Iya-iya, betul juga” Si kumbang jantan membodoh-bodohi dirinya sendiri. “Kalau kamu sendiri mau jadi apa, Kum?” si kumbang jantan balas bertanya. “Kalau aku sich pengennya jadi manusia”. “Hah, alasannya? Si kumbang jantan terkejut mendengar keinginan si kumbang betina.” Kalau jadi manusia itu enak. Semuanya serba enak. Makan enak, tidur enak, minum enak. Lihat saja di berbagai penjuru dunia, ada berapa ribu aneka rasa makanan dan minuman. Tidurnya juga empuk, mantul-mantul” jelas si kumbang betina”.


Si kancil jantan menghentikan dongengnya, lantas memetik bunga bakung dan menyelipkan di telinga si kancil betina. “Kau begitu menawan menggunakan hiasan ini” Dan lagi si kancil betina dibuat tersipu malu.


“Aih so swet, romantisnya” dengan muka yang memerah, Cilcil mengucapkannya lirih. Sepasang kancil itu sama-sama tersipu malu.


Untuk menghilangkan rasa malu, si kancil Jantan berinisiatif melanjutkan dongengnya. “Baiklah akan kulanjutkan. Tadi sampai mana ceritanya?” Kankan tergagap.

“Mmmmm sampai mana ya? Oh iya tentang si kumbang yang ingin menjadi manusia” Cilcil mengingatkan, tentunya masih tersipu malu.


“Yah, tentang si kumbang betina yang ingin menjadi manusia. Mendengar keinginan si kumbang betina itu, si kumbang jantan berubah raut wajahnya. Kesal bercampur sedih, sebab ia begitu benci dengan yang namanya manusia. “kenapa diam, Bang?” Tanya si kumbang betina. “Ah tidak, tidak apa-apa. Hanya melamun!” jawabnya singkat. “Apakah ada yang salah dengan keinginanku?” si kumbang Jantan hanya diam, masih terlihat cemberut. “Apakah yang salah, Bang?” Tanya si kumbang betina mengulang. “Oh tidak, tidak ada yang salah. Wajar saja kau berkeinginan seperti itu. Hanya saja aku alergi mendengar kata manusia” jelas si kumbang jantan. “Kenapa begitu? Tidak salahkan aku berkeinginan seperti itu?”. “Tidak ada yang salah. Wajar saja kau berkeinginan seperti itu. Tapi…..” si kumbang jantan bingung menjelaskannya. “Kenapa? ada apa dengan manusia?” si kumbang betina memancing si kumbang jantan untuk bercerita. “Tidakkah kamu merasa jika hutan yang sekarang kita huni kian hari kian sepi? Tahukah mengapa, itu tidak lain dan tidak bukan akibat dari perbuatan manusia!” terdiam mengambil nafas dalam-dalam. “Sadarkah kamu jika teman-teman kita, babi, ular, buaya bahkan harimau selalu diburu manusia?”. “Itu sebabnya aku ingin menjadi manusia” kata si kumbang teranggut-anggut dan berpikir. “Pantas saja manusia mencipta lagu “si kancil anak nakal” karena kau pun bertabiat seperti manusia pada umumnya” sindir si kumbang Jantan. “ Kau bertanya padaku, hutan ini sepi? Sebab harimau di kuliti, buaya dibantai lalu dikuliti lalu menjadi dompet, tas, sepatu dan aksesoris tubuh manusia lainnya. Begitupun dengan ular nasibnya sama persis dengan buaya. Babi diburu dagingnya untuk konsumsi manusia. Monyet di perangkap dan kemudian menjadi penghias di beranda rumah dengan jeruji besinya. Binatang sekecil semut sampai sebesar gajah di tangkap lalu dipertontonkan kepada banyak manusia. Apa yang manusia lakukan semata-mata untuk mendapatkan rupiah, uang! Alasan Artistis, seni dan ekonomilah manusia memperlakukan satwa sekejam itu. Mengapa hutan yang kita huni sepi? Itu jawaban atas pertanyaanmu,” si kumbang jantan menjelaskan menggebu-gebu, hingga meneteskan airmata. Si kumbang betina pun sepertinya baru menyadari dan larut dalam kesedihan. “Maaf aku tidak tahu. Hiks.. Hiks.. Mugkin aku yang terlalu bodoh dan naïf seperti manusia”. Si kumbang betina pun menangis sesunggukan meminta maaf. “Sudahlah, lebih baik tidak usah berandai-andai. Nikmati saja anugerah dan ciptaan Tuhan. Syukuri saja kita sebagai makhluk hidup yang bisa terbang. Dunia ini indah. Kepakkan sayap, mari kita kabarkan pada penjuru dunia, bahwa hutan kita telah dimusnahkan oleh manusia-manusia bodoh yang tak bertanggung jawab” si kumbang jantan menyemangati. “Dan sejak itu, kumbang menjadi pengabar tentang kerusakan hutan yang disebabkan manusia. Tamat” si kancil jantan menutup dongengnya.


“Huh, aku terharu mendengar dongengmu,” ujar Cilcil, melelehkan airmata. “Maaf atas pertanyaan konyolku tadi. Sungguh aku tak bisa menalar sejauh itu”


“Sudahlah, malam sudah beringsut pagi. Lihat, bulan tersenyum pada kita. Tersenyumlah manis” Kankan menghibur dan mengusap airmatanya yang terus mengucur.


“Aku tidak ingin seperti si kumbang betina. Hikss”

“Sssssst jangan seperti manusia”

“Iya maksudku manusia” Cilcil tersedu-sedu, meralat.

“Krik…Krik…Krik… Homo Homini Lupus[vii]…”jengkerik mengerik. “Homo Homini Lupus, Krik…Krik.. Krik..” mengutip Thomas Hobbes[viii].


“Hore masih ada kawan. Jengkerik!” Cilcil berteriak girang. “Tapi apa yang dikatakannya? Apa arti bahasa asing itu?” Tanyanya.


“Tanyakan saja pada jengkerik yang mengerik” jawab Kankan, mengerlingkan mata.

“Krik…Krik…Krik… Manusia adalah serigala bagi manusia lain. Janganlah menjadi manusia, meski manusia di beri akal oleh Sang Pencipta, sayangnya akal itu dipergunakan untuk saling membunuh sesama makhluk hidup bahkan merusak alam. Itu semata-mata hanya untuk kesenangan duniawi dan perutnya” jengkerik mengerik filosofis.


Mendengar petuah itu akhirnya sepasang kancil itu sadar bahwa dunia yang dihadapi penuh dengan tipu daya. Tipu daya manusia yang mengaku sebagai makhluk rasional.

***

Begitulah dongeng si kancil yang mendongeng tentang Hutan. Tentang tanah airnya yang dijajah oleh manusia. Jangan-jangan sifat dasar manusia adalah menjajah ya? Tidak semua seperti itu. Mungkin gak? Gak mungkin! Mungkin saja.



Hey kalian. Apa yang kalian lakukan malam ini? Semoga kalian malam ini berlibur dan tidak membalak hutan kami. Semalam saja, aku ingin tertidur nyenyak dan tidak terganggu oleh suara-suara berisik dari gergaji mesin yang kalian nyalakan. Ehm mungkin aku bisa bermimpi indah.


Oh iya, by the way. Saya sudah melihat video mesum mirip artis lho. Konon, video mesum itu mirip manusia yang bernama Ariel versus Luna Maya dan Ariel versus Cut Tari. Hot Pisan euy! Tapi sayangnya manusia yang bernama Luna Maya permainan seksnya tidak seagresif Cut Tari dengan Ariel ya? Hahahaha. Pasif coy!


Tuh kan sudah saya bilang bahwa kalian itu tak ubahnya seperti kami para binatang. Saya merasa kasihan dengan manusia yang bernama Ariel dan kedua rekan seksnya. Mereka di cerca, di hina dan di hujat dimana-mana. Ariel dan kedua pelaku menanggapi beredarnya video yang mirip dengannya, “Fitnah, ada orang lain yang menyebarluaskan video dan itu ranah privasi”. Kalau boleh memberi saran, saya akan mengatakan sudahlah Riel, akui saja jika memang kamu pelakunya. Tapi kalau memang kamu bukan pelakunya buktikanlah! Apa kamu lupa dengan pepatah manusia, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga? Atau pepatah lain, sepandai-pandai menutup kebusukan lambat laun tercium juga baunya? Tenang saja, jika kamu merasa tidak diterima lagi di komunitas masyarakat oleh sebab perbuatanmu. Saya akan memberimu ruang di hutan. Kamu bebas melakukan apa saja sesuai keinginan. Ajaklah manusia yang bernama Luna Maya dan Cut Tari. Mau nungging, mau anal, mau jengking, pokoknya bebas! Lakukanlah apa yang ingin kau salurkan hasrat berahimu. Tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, dilarang keras menebang, membalak pohon dan merusak hutan dalam bentuk dan dalih apapun. Kedua, sayangilah binatang sebagaimana kamu menyayangi teman-teman seksmu. Itu saja. Mudah bukan?


Jika bersedia. Hutan membukakan pintunya lebar-lebar, dan kamu, manusia bernama Luna Maya dan Cut Tari akan di sambut meriah oleh semesta penghuni hutan. SELAMAT DATANG DI REPUBLIK BINATANG.


Seandainya manusia yang bernama Ariel, Luna Maya serta Cut Tari resmi menjadi warga Negara Republik Binatang. Saya akan mengganti nama Ariel menjadi Tarzan, Luna Maya menjadi Jane, dan Cut Tari berperan sebagai teman selingkuhannya. (Kaya film Tarzan X itu lho). Kalaupun sudah menjadi Tarzan, jangan berharap menjadi raja, karena di hutan kami sudah ada raja, sang raja Singa. Kamu saya posisikan sebagai Juru bicara bidang keselamatan binatang dibawah naungan departemen HAB (Hak Asasi Binatang). Ya semacam penyambung lidah binatang atau terserah kamu saja mau membahasakannya apa. Yang pasti pada intinya, segala keluh kesah, pelanggaran HAB yang dilakukan oleh manusia, kamu jadi juru bicaranya. Sebagai publik figur mestinya kau bisa mewartakan kepada fans-fansmu. Kampanyekan bahwa di hutan banyak pengrusakan hutan secara sistematik yang dilakukan oleh manusia.


Wah saya kok jadi meracau. Tapi jika benar terjadi racauan saya, asyik juga! Khayalan itu ternyata cukup menghibur. Andai saja manusia yang bernama lengkap Nazril Irham itu mau. Hahahaha. Sudahlah cukupi saja andai-andai ini.



Sebentar ada yang terlupa, saya mau bergosip. Bukankah manusia yang bernama Cut Tari itu pembawa acara dalam tayangan Insert di salah satu tv swasta nasional? Pemandu acara gosip para selebritis. Wah Cut Tari kebanyakan menggosip, jadi digosipin dech! Hahahaha. Ngomong-ngomong manusia yang bernama Nazril Irham sang vokalis flamboyan itu, Luna Maya kok mau ya? Apa sich menariknya lelaki itu? Kalau saja saya jadi manusia yang bernama Cassanova, pasti sudah saya tentang habis-habisan hubungan kedua manusia itu. Tuh kan kena juga tubuhnya di gagahi. Ups… maaf saya melantur lagi. Lagi-lagi khayalan adalah sesuatu yang menghibur.


Baiklah kembali ke topik semula. Tentang hutan! Saya takut sang raja singa yang telah memberikan wewenang untuk berbicara memarahi saya. Lantaran ikut-ikutan manusia yang bernama Cut Tari yang sukanya bergunjing. Nanti saya ikut-ikutan jadi Biang Gosip! Jangan sampai virus Cut Tari merasuk pola pikir dan bicaraku. Hehehehe


Tidak usah bertele-tele. Konkrit saja! Saya serukan pada kalian. Walau dengan dalih ekonomi, pembangunan atau apapun itu hentikan pengrusakan, pembalakan liar hutan kami. Semoga kalian mengerti betapa pentingnya hutan dan kelangsungan makhluk hidup yang ada di bumi. Sebagai penutup saya ingin membacakan puisi yang berjudul; Hutan Utopia…


Banjir…. Air

Lonsor…. Tanah

Air hujan

Tanah gersang

Panas

Tahukah mengapa?

Tanyalah pada diri…

Murka Tuhan?

Bukan!

Kiamat?

Tidak

Tanyalah pada diri

Hutan meranggas

Air mengering

Menghirup udara segar?

Tidak mungkin!

Tanyalah pada hati nurani..


Sekian terima kasih. Kuharap kalian tidak bertepuk tangan. Sebab tepuk tangan kalian membuat luka kami kembali menganga (ups maaf, bercanda). Tabik.

Di kaki Gunung Ampon, 10 Juni 2010

(WFY)




NB

  • Ide cerita berawal dari membaca Koran kompas tertanggal 12 april 2010. Kerapnya saya menonton Film “The Burning Season”, yang diperankan oleh Raul Julia dan disutradarai John Frankenheimer. Dan film “Tarzan X”, serta menonton tv swasta nasional yang sering menyiarkan gosip dan pergunjingan publik figur (baca; artis) yang gemar mengkomersialkan kehidupan pribadinya. Disamping itu saya sering mendengarkan lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi”, pencipta Iwan Fals. “Berita Cuaca”, yang dipopulerkan Gombloh dan "Lautan Tangis"nya Sujiwo Tejo





Keterangan


i. Pegunungan Hyang, Argopuro secara geografis masuk di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Jember, Situbondo, Probolinggo dan Bondowoso, Jawa Timur.

ii. GR bahasa gaulnya anak muda Jakarta, akronim dari GEDE RASA, mempunyai rasa kepercayaan diri yang besar.

iii. So What Bahasa Inggris; Terus kenapa? “So what gitu loch”, bahasa gaulnya anak muda Jakarta.

iv. Oportunis; sifat orang yang pandai mencuri peluang disaat ada kesempatan dalam kesempitan.

v. V simbol Perdamaian. Biasanya ditunjukkan dengan mengacungkan dua jari; jari telunjuk dan jari tengah.

vi. Edelwise adalah nama lain dari bunga abadi. Bunga ini tumbuh dilebatnya hutan atau di gunung. Namun sayangnya hampir punah dipetik oleh para pendaki gunung yang bertangan jahil.

vii. Homo Homini Lupus; Manusia adalah serigala bagi manusia lain.

viii. Thomas Hobbes adalah seorang filsuf Inggris yang beraliran empirisme. Pandangannya yang terkenal adalah konsep manusia dari sudut pandang empirisme-materialisme, serta pandangan tentang hubungan manusia dengan sistem negara